Ke Mana Perginya Pertumbuhan?
ILUSTRASI Ke Mana Perginya Pertumbuhan?.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Pendidikan vokasi menghasilkan lulusan las dan mekanik, tetapi industri yang berkembang paling cepat adalah pergudangan, ojol, dan restoran cepat saji. Tangga yang dijanjikan pendidikan ternyata tidak mengarah ke mana-mana.
Ha-Joon Chang sudah lama mengingatkan: negara yang terjebak sebagai penyedia tenaga kerja murah dan bahan mentah akan sulit naik kelas, berapa pun angka pertumbuhannya.
Kalau tenaga kerja terdidik terus terserap ke pekerjaan yang tidak memanfaatkan keahliannya, investasi publik pada pendidikan pun bocor. Negara membiayai penciptaan sumber daya manusia yang kemudian tidak digunakan sesuai kapasitasnya.
Ketika keterampilan tidak terpakai, produktivitas tidak bergerak. Dan, ketika produktivitas tidak bergerak, perusahaan tidak punya alasan ekonomi untuk menaikkan upah. Kenaikan gaji hanya datang lewat jalur administratif: UMP dinaikkan, angka disesuaikan.
NAIK DI ATAS KERTAS
UMP 2026 naik 6–7 persen. Di atas inflasi, kata pejabat. Namun, inflasi resmi tidak menangkap seluruh komposisi biaya hidup yang paling menekan kelas pekerja: sewa, pangan, transportasi, biaya sekolah.
Semuanya bergerak lebih cepat daripada angka resmi. UMP bisa naik di atas kertas. Upah riil tetap turun di kehidupan nyata.
Kenaikan upah yang tidak ditopang produktivitas juga menekan balik. Perusahaan besar bertahan lewat efisiensi dan otomatisasi. Usaha kecil tidak punya ruang itu. Mereka mengurangi jam kerja, menahan rekrutmen, atau bergeser ke informal.
Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 78.000 PHK pada 2024, naik dari 64.900 pada 2023. Proporsi pekerja informal kembali meningkat.
BPS mencatat kelas menengah turun dari 57 juta pada 2019 menjadi 47,85 juta pada 2024. Mandiri Institute mencatat penyusutan berlanjut ke 46,7 juta pada 2025. Hampir 10 juta orang turun kelas dalam enam tahun.
Saldo rata-rata rekening tabungan di bawah Rp100 juta turun 40 persen antara 2019 dan 2024. Tabungan menyusut bukan karena konsumsi naik, melainkan karena kebutuhan pokok menyerap porsi yang makin besar dari penghasilan yang tidak bergerak.
KONSUMSI YANG MEMAKAN DIRINYA SENDIRI
Di sinilah rantainya melingkar dan menjadi perangkap.
Indonesia menggantungkan 54 persen PDB-nya pada konsumsi rumah tangga. Kelas menengah menyumbang 43 persen konsumsi itu pada 2019. Pada 2024 tinggal 38 persen. Mesin pertumbuhan kita bergantung pada belanja kelompok yang daya belinya terus menyusut.
Data penjualan barang konsumsi mempertegas hal itu. Unilever Indonesia, perusahaan FMCG terbesar dengan pangsa pasar sekitar 35 persen, mencatat penurunan penjualan dari Rp41,2 triliun pada 2022 menjadi Rp35,1 triliun pada 2024. Turun 15 persen dalam dua tahun untuk produk paling dasar: sabun, sampo, dan bumbu masak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: