Ke Mana Perginya Pertumbuhan?
ILUSTRASI Ke Mana Perginya Pertumbuhan?.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Ini bukan soal konsumen menjadi irasional. Ini soal ruang belanja yang menyempit. Ini soal jutaan rumah tangga yang menunda belanja secara bersamaan karena ruang fiskalnya menyempit.
Satu per satu, penundaan itu terlihat rasional. Tetapi, ketika terjadi serentak dalam skala jutaan, ekonomi kehilangan tenaga pendorongnya.
Konsumsi melemah menekan pertumbuhan. Pertumbuhan melambat menyempitkan ruang fiskal pemerintah. Ruang fiskal sempit mengurangi kemampuan mendorong industri produktif.
Industri produktif tidak tumbuh, produktivitas tetap macet. Upah tetap tidak naik. Siklus itu berulang, dengan ruang ekonomi yang makin menyempit.
McKinsey Global Institute memperkirakan Indonesia butuh pertumbuhan produktivitas 4,9 persen per tahun untuk mencapai status negara berpenghasilan tinggi pada 2045. Satu setengah kali lipat dari capaian dua dekade terakhir.
BUKAN SOAL KERJA KERAS
Pekerja bergaji UMP di Jakarta membawa pulang Rp5,39 juta per bulan. Setelah sewa dan transportasi, yang tersisa hampir tidak cukup untuk menabung. Ia bukan pengecualian. Ia adalah gambaran dari jutaan pekerja yang melakukan semua hal yang selama ini kita sebut ”cara naik kelas” –bekerja, disiplin, bertahan– tetapi tetap tidak bergerak naik.
Yang perlu dibenahi bukan etos kerja mereka. Yang perlu dibenahi adalah desain mesinnya: ke mana investasi diarahkan, jenis pekerjaan apa yang diciptakan, dan apakah pertumbuhan yang kita rayakan benar-benar sampai ke penghasilan orang-orang yang menggerakkannya.
Selama itu belum berubah, pertanyaan ”ke mana perginya pertumbuhan?” akan terus mendapat jawaban yang sama: ke sektor-sektor yang tidak pernah terhubung dengan penghasilan mayoritas pekerja. (*)

*) Eric Wicaksono adalah executive partner di Naiman Global Advisory dan head of investment and strategy.-Dok. Pribadi-
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: