Mengubah Krisis Energi Menjadi Energi Kreativitas
ILUSTRASI Mengubah Krisis Energi Menjadi Energi Kreativitas.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
KONFLIK di Timur Tengah –terutama yang melibatkan Iran vs Israel dan Amerika Serikat– bukan sekadar urusan geopolitik yang jauh dari kehidupan kita. Ketegangan itu berpotensi mengganggu jalur distribusi minyak dunia, khususnya jika Selat Hormuz ikut terdampak atau bahkan ditutup.
Bagi Indonesia, ancaman itu bukan hal kecil. Selama ini Indonesia masih bergantung pada impor sekitar satu juta barel minyak per hari. Artinya, setiap gejolak global dengan cepat menjalar ke dalam negeri.
Ketika harga minyak dunia berfluktuasi, ekonomi domestik pun ikut goyah. Ketahanan energi menjadi rapuh. Jika konflik berlarut-larut, cadangan BBM nasional berisiko menipis.
Dalam situasi seperti itu, yang muncul bukan hanya persoalan teknis, melainkan juga reaksi sosial. Ketakutan akan kelangkaan memicu panic buying. Kecemasan menyebar. Publik merasa tidak aman.
BACA JUGA:Krisis Energi, Sebuah Paradoks
BACA JUGA:Krisis Energi Prancis: No More Fuel!
DARI GEOPOLITIK KE DAPUR RUMAH TANGGA
Dampak krisis energi global pada akhirnya selalu bermuara pada kehidupan sehari-hari. Harga BBM dan LPG merangkak naik, distribusi tersendat, dan beban rumah tangga makin berat.
Bagi pelaku usaha kecil, kondisi tersebut bisa menjadi pukulan telak. Bagi masyarakat luas, itu adalah ancaman nyata terhadap stabilitas hidup.
Namun, krisis energi kerap dipahami secara sempit sebagai sekadar masalah ketersediaan. Seolah-olah persoalannya hanya pada minyak yang menipis atau produksi yang tidak mencukupi.
Padahal, realitasnya jauh lebih kompleks. Krisis energi juga menyangkut bagaimana masyarakat tetap merasa aman, memperoleh informasi yang jelas, dan memiliki alternatif untuk bertahan.
BACA JUGA:Antisipasi Krisis Energi Global, Pemerintah Bangun Storage Minyak Raksasa di Sumatra
BACA JUGA:Krisis Energi Listrik, Kosovo Melarang Penambangan Cryptocurrency
Di titik itulah krisis energi berubah menjadi krisis kepercayaan. Ketika informasi tidak utuh dan solusi tidak terlihat, kecemasan menjadi tak terhindarkan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: