Gencatan Senjata dan Krisis Ekonomi Global yang Masih Mengancam

Gencatan Senjata dan Krisis Ekonomi Global yang Masih Mengancam

ILUSTRASI Gencatan Senjata dan Krisis Ekonomi Global yang Masih Mengancam.-Arya/AI-Harian Disway -

SETELAH 40 hari saling serang, Iran dan Amerika Serikat (AS)/israel menyepakati gencatan senjata untuk dua pekan. Harga minyak langsung turun dari USD110 per barel menjadi USD90 per barel pada Rabu (8 April 2026). 

Meski deeskalasi konflik memberikan harapan atas perdamaian di Timur Tengah, potensi krisis ekonomi global tetap menjadi ancaman. Mengapa?

KRISIS ENERGI

The damage has been done, ’kerusakannya sudah terjadi’. Harga minyak mentah dan gas melonjak tajam sehingga banyak negara terancam krisis energi. Untuk mengembalikan normalitas kegiatan ekonomi dunia, khususnya terkait logistik pengiriman minyak mentah, akan diperlukan waktu yang lebih lama. 

BACA JUGA:Trump Setujui 10 Syarat Iran, Gencatan Senjata Dua Pekan Disepakati

BACA JUGA:Pete Hegseth Apresiasi Peran Indonesia Jaga Gencatan Senjata di Gaza

Apalagi, jika salah satu pihak yang berperang melanggar poin-poin gencatan senjata yang disepakati dan perang kembali terjadi. Konflik geopolitik di Teluk masih akan panjang dan potensi terjadi krisis ekonomi global masih mengancam.

Perang  Iran dengan AS/israel memberikan dampak langsung terhadap perekonomian dunia. Selain sebagai salah satu produsen minyak mentah dunia, Iran yang menguasai Selat Hormuz mengendalikan 20 persen pengiriman minyak mentah dunia. 

Ditutupnya Selat Hormuz langsung berdampak pada menyusutnya suplai minyak mentah dunia dan harga minyak melonjak tajam. Selain minyak, harga komoditas energi lain seperti gas meningkat tajam. 

Kenaikan harga komoditas energi memberikan multiplier effect yang besar terhadap kenaikan harga-harga barang lainnya. Krisis energi telah terjadi di banyak negara, termasuk di AS. 

Kantror berita Al Jazeera merilis data, akibat perang Iran vs AS/israel saat ini, ekspor minyak mentah dari enam negara Teluk turun 44 persen dari 469 juta barel pada Februari menjadi 263 juta barel pada Maret. 

Pada periode tersebut, penurunan ekspor terbesar dialami Irak sebesar 81% dari 94 juta barel menjadi 17 juta barel. Disusul Kuwait turun 74%, Qatar turun 68%, Arab Saudi turun 34%, dan Uni Emirat Arab turun 26%. 

Oman menjadi satu-satunya negara di Teluk yang mencatat kenaikan ekspor sebesar 16% dari 25 juta barel menjadi 29 juta barel. Ekspor Oman naik karena negara tersebut memliki beberapa pelabuhan ekspor di luar Selat Hormuz. 

Dengan perang selama 40 hari saja, ekspor minyak mentah dari kawasan Teluk turun hingga 44 persen. Suplai minyak mentah akan makin terbatas jika perang berlanjut. Sebagian besar analis komoditas dunia meragukan gencatan senjata berjalan lancar. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: