Perundingan Islamabad Semakin Tak Menentu, Iran Tetapkan Syarat Prakondisi Agar Mau Bertemu Utusan AS
Suasana kota Islamabad jelang perundingan AS-Iran yang akan digelar di Hotel Serena dekat Red Zone Islamabad-Farooq Naeem/AFP-
ISLAMABAD, HARIAN DISWAY – Delegasi tingkat tinggi Iran yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dijadwalkan melakukan pertemuan pembuka dengan Perdana Menteri Pakistan, Shahbaz Sharif pada Sabtu pagi, 11 April 2026 sebelum menentukan apakah mereka akan duduk satu meja dengan utusan Amerika Serikat (AS)
Laporan dari koresponden Tasnim di Islamabad menyebutkan bahwa pertemuan dengan PM Sharif merupakan agenda utama Teheran untuk mengonsolidasikan posisi mediator Pakistan. Pertemuan ini menjadi penentu apakah perundingan formal yang direncanakan berlangsung di Hotel Serena pada Sabtu siang dapat terlaksana atau justru menemui jalan buntu.
Nasib perundingan ini sepenuhnya bergantung pada satu syarat: penerimaan Washington terhadap prasyarat yang diajukan Teheran. Ghalibaf, yang didampingi oleh tim ahli lintas sektoral, telah menegaskan bahwa Iran memiliki "niat baik namun nol kepercayaan" terhadap Amerika Serikat.
Sikap keras ini berakar dari pengalaman pahit Iran selama 40 hari konflik terakhir, di mana mereka menuduh AS melakukan pengkhianatan di tengah proses negosiasi sebelumnya. Iran menuntut jaminan keamanan yang nyata serta pengakuan atas hak-hak nasional mereka sebelum memulai dialog teknis apa pun.
BACA JUGA:Delegasi Iran Tiba di Islamabad untuk Perundingan, Ghalibaf: Kami Tidak Percaya AS
Komposisi Delegasi

Tim delegasi Iran tiba di Islamabad. Dipimpin Bahger Ghalibaf (kanan tengah) dan didampingi Menlu Iran Abbas Araghchi (kiri tengah). Didampingi oleh Panglima Angkatan Bersenjata Pakistan jenderal Asim Munir (kiri) dan Menlu Pakistan ishaq Dar (kanan)-Kemlu Pakistan via AFP -
Keseriusan Iran dalam negosiasi kali ini terlihat dari struktur delegasi yang dibawa Ghalibaf. Berdasarkan data yang dihimpun, tim perunding Iran dibagi ke dalam komite-komite strategis yang dipimpin oleh tokoh kunci:
- Komite Politik: Dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
- Komite Ekonomi: Dipimpin oleh Gubernur Bank Sentral Abdolnaser Hemmati.
- Komite Militer: Dipimpin oleh Laksamana Ali Akbar Ahmadian (Kepala Dewan Pertahanan).
- Komite Hukum: Dipimpin oleh juru bicara Kemenlu Esmaeil Baqaei.
Kehadiran komite-komite ini mengindikasikan bahwa Iran tidak hanya datang untuk membahas gencatan senjata, tetapi juga aspek ekonomi dan sanksi yang telah menjerumuskan ekonomi global ke dalam gejolak.
BACA JUGA:Trump Setujui 10 Syarat Iran, Gencatan Senjata Dua Pekan Disepakati
AS Siagakan 300 Personel di Kedutaan
Laporan dari reporter Tasnim, delegasi Amerika Serikat yang dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance dilaporkan telah tiba lebih awal di Islamabad. Berbeda dengan tim Iran, Vance membawa rombongan besar berjumlah sekitar 300 orang, termasuk utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner.
Untuk alasan keamanan, delegasi AS saat ini memilih untuk menetap di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Islamabad ketimbang hotel publik. Vance sebelumnya menyatakan bahwa meskipun AS bersedia "mengulurkan tangan", mereka tidak akan ragu untuk bersikap tidak kooperatif jika merasa dipermainkan oleh Teheran.
Jika prasyarat Iran diterima oleh pihak Amerika pada Sabtu pagi ini, kedua delegasi dijadwalkan akan bertemu di Hotel Serena, yang terletak di dekat kawasan "Red Zone" yang dijaga ketat. Lokasi ini telah disulap menjadi benteng dengan pengamanan super ketat, melibatkan ribuan personel tentara dan polisi Pakistan serta patroli jet tempur di langit Islamabad.
Dunia kini menanti hasil dari pertemuan Ghalibaf dan PM Shahbaz Sharif. Kegagalan dalam menyepakati prasyarat di jam-jam mendatang tidak hanya akan membatalkan pertemuan di Hotel Serena, tetapi juga mengancam kelangsungan gencatan senjata dua minggu yang saat ini sudah berada di ujung tanduk akibat eskalasi serangan Israel di Lebanon selatan yang telah menewaskan lebih dari 300 warga sipil pada "Rabu Kelam".(*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: