Rencana Lima Tahun ke-15 Tiongkok Membawa Empat Peluang untuk Indonesia
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani bertemu dengan 8 perusahaan di Tiongkok pada 18-20 Desember 2024.--
Sidang Dua Sesi (Lianghui) Tiongkok yang ditutup pada bulan Maret tahun ini telah meninjau dan menyetujui Rencana Lima Tahun Pembangunan Ekonomi dan Sosial Nasional Tiongkok ke-15. Rencana ini meliputi bidang-bidang utama dan tahapan krusial pembangunan ekonomi dan sosial, menyusun 16 tugasan strategis dan 109 proyek penting, merancang cetak biru pembangunan lima tahun ke depan, serta menyusun “peta pelaksanaan” bagi Tiongkok untuk mencapai Modernisasi Sosialisme secara fundamental pada tahun 2035.
Apakah manfaat Rencana Lima Tahun ke-15 Tiongkok bagi Indonesia? Saya ingin menguraikannya dari empat aspek, yaitu pasar berskala sangat besar, investasi yang aman dan bernilai pertumbuhan tinggi, ekspor produktivitas maju, serta percepatan pertukaran antara rakyat kedua negara, untuk membantu kawan-kawan Indonesia memahami peluang dari Tiongkok dan menciptakan ruangan kerja sama baru.
Pertama, peluang pasar berskala sangat besar. Tiongkok tetap menjadi pasar konsumsi terbesar kedua di dunia, dengan populasi sebesar 1,4 miliar jiwa dan lebih dari 400 juta kelompok berpendapatan menengah. Kemampuan konsumsi terus tumbuh secara stabil, menjadikannya salah satu pasar konsumsi dengan potensi terbesar di dunia. Pada tahun 2025, Produk Domestik Bruto (PDB) Tiongkok untuk pertama kalinya mencapai tingkat baru sebesar 140 triliun RMB. Total penjualan eceran barang konsumsi melebihi 50 triliun yuan, dan skala total impor perdagangan barang mencapai 18,48 triliun RMB. Hal ini terus memberikan stabilitas berharga dan dorongan baru bagi pertumbuhan ekonomi dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, kerja sama ekonomi dan perdagangan Tiongkok-Indonesia terus diperdalam.
Pada tahun 2025, total nilai perdagangan bilateral melebihi 167,48 miliar Dolar AS, naik 13,4% secara tahunan. Kedua pihak telah mewujudkan bea masuk nol atau rendah untuk berbagai komoditas berdasarkan perjanjian perdagangan bebas. Ekspor komoditas utama Indonesia seperti minyak kelapa sawit dan karet ke Tiongkok tetap berada di peringkat teratas.
Produk konsumsi khas seperti kopi, buah tropis, dan sarang burung walet semakin dikenal dan penjualannya terus meningkat di pasar Tiongkok, menjadi sumber dorongan penting bagi pertumbuhan perdagangan luar negeri Indonesia. Dalam lima tahun ke depan, total impor Tiongkok diperkirakan mencapai 14 triliun hingga 15 triliun Dolar AS. Pasar besar Tiongkok dengan sikap yang lebih terbuka menyambut produk dan perusahaan dari berbagai negara termasuk Indonesia, untuk berpartisipasi, berbagi peluang, dan berkembang bersama.
BACA JUGA:Salut! Di Tiongkok Soal Etika AI pun Dipikirkan Benar oleh Pemerintah
BACA JUGA:Kisah Zhang Xue Pendiri ZXMoto, Mekanik Desa yang Bermimpi Bawa Motor Tiongkok Merajai Balapan Dunia
Kedua, peluang investasi yang aman dan bernilai pertumbuhan tinggi. Sebagai salah satu negara teraman di dunia, Tiongkok memiliki stabilitas sosial jangka panjang dan sistem hukum yang lengkap. Tiongkok telah menjadi, sedang menjadi, dan pasti akan terus menjadi tujuan investasi yang ideal, aman, dan menguntungkan bagi investor asing. Pada tahun 2025, Tiongkok mendirikan lebih dari 70.000 perusahaan baru dengan modal asing, naik 19,1% secara tahunan.
Penerimaan investasi di sektor teknologi tinggi mencapai 32,3%, yang sepenuhnya menunjukkan keyakinan kuat investor global terhadap Tiongkok. Tiongkok terus menciptakan lingkungan investasi yang adil, stabil, dapat diprediksi dan aman bagi perusahaan asing, menjamin perlakuan yang setara secara menyeluruh, serta menyediakan layanan rantai lengkap mulai dari pendaftaran investasi hingga pengembangan operasional.
Tahun ini, edisi terbaru Daftar Industri yang Mendorong Investasi Asing Tiongkok berisi sebanyak 1.679 entri, mencakup bidang produktivitas baru seperti manufaktur canggih, layanan modern, teknologi tinggi, dan perkembangan hijau. Pada saat yang sama, daftar negatif aksesi investasi asing nasional telah dikurangi menjadi 29 entri, dan semua batasan aksesi investasi asing di sektor manufaktur telah dihapuskan sepenuhnya. Kebijakan “Investasi di Tiongkok” kini memberikan manfaat kebijakan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Tiongkok menyambut investor dari berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk berinvestasi dan mengembangkan usaha di Tiongkok, menyelaraskan strategi industri secara mendalam, berbagi peluang pembangunan berkualitas tinggi, dan mewujudkan keuntungan bersama.
BACA JUGA:Harga Makam di Tiongkok Mahal, Warga Pilih Beli Apartemen untuk Simpan Abu Jenazah
BACA JUGA:Clubbing ala Gen Z Tiongkok, Datang ke Bar tapi Pesen Minuman Herbal
Ketiga, peluang ekspor produktivitas maju. Baru-baru ini Indonesia telah mengeluarkan Rencana Strategis 2025–2029 (Renstra 2025–2029), yang menetapkan target melipatgandakan investasi manufaktur pada tahun 2029. Indonesia akan berusaha mengandalkan sumber daya unggulan lokal seperti sumber daya mineral, energi, pertanian, dan kelautan untuk mendorong strategi hilirisasi industri, bertransformasi dari eksportor bahan mentah murni menjadi negara industri bernilai tambah tinggi. Hal ini sangat sesuai dan saling melengkapi dengan keunggulan teknologi maju dan kapasitas produksi Tiongkok.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: