WFH, Krisis Geopolitik, dan Tantangan Hotel Surabaya

WFH, Krisis Geopolitik, dan Tantangan Hotel Surabaya

Dampak Krisis Geopolitik dan WFH Terhadap Industri Perhotelan Surabaya.-Salman Muhiddin-Nano Banana 2

Karena itu, tantangan terbesar hotel di Surabaya hari ini bukan sekadar menunggu krisis global reda. Tantangannya adalah membaca arah perubahan. Krisis geopolitik memang berada di luar kendali industri perhotelan.

BACA JUGA:Dari Mediator ke Tatap Muka: AS-Iran Mulai Negosiasi Langsung di Islamabad

BACA JUGA:Update Perundingan Islamabad: Iran Adukan Sikap Mencla-Mencle AS ke Pakistan

Kebijakan WFH juga sering lahir dari keputusan organisasi yang lebih besar. Namun, cara merespons perubahan itu tetap berada di tangan pelaku industri.

Hotel yang mampu beradaptasi akan menemukan bentuk pasar baru. Sebaliknya, hotel yang hanya berharap keadaan kembali seperti dulu akan tertinggal oleh perubahan zaman.

Dalam konteks inilah, WFH dan krisis geopolitik harus dibaca bukan hanya sebagai ancaman, tetapi juga sebagai penanda bahwa industri perhotelan membutuhkan strategi baru yang lebih lentur, kreatif, dan berorientasi ke depan.

Surabaya adalah kota bisnis. Tetapi bahkan kota bisnis pun kini harus menerima kenyataan bahwa mobilitas kerja tidak lagi sama. Dunia sedang berubah. Cara orang bekerja berubah. Cara orang bepergian juga berubah. Dan hotel, suka atau tidak, harus ikut berubah.

*) Kepala Program Studi Kepariwisataan Universitas 45 Surabaya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: