Ketika Kesehatan Sosial Bangsa Sedang Sakit, Siapa Dokternya?
Mengukur kesehatan sosial bangsa: curiga, fitnah, dan kepercayaan yang mulai hilang.-Nano Banana 2-Nano Banana 2
Kita semua peduli pada kesehatan fisik dan mental—tapi kesehatan sosial sering kali terabaikan. Padahal, kemampuan kita untuk berinteraksi, saling percaya, dan menghargai perbedaan sama pentingnya dengan tekanan darah atau stres. Tanpa kesehatan sosial, masyarakat bisa menjadi rapuh, konflik mudah meletus, dan kepercayaan pun hilang. Lalu, siapa yang menjaga kesehatan sosial kita?
Ada satu jenis kesehatan yang jarang kita bicarakan, yaitu kesehatan sosial. Padahal, menurut WHO, kesehatan itu tidak hanya bersifat fisik atau psikologis.
Kesehatan itu juga mencakup kesehatan sosial. Artinya, sehat bukan hanya soal tubuh kita, bukan hanya soal perasaan kita, tapi juga bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain.
Nah, pertanyaannya adalah, kalau kesehatan fisik sudah diurus oleh berbagai lembaga, kesehatan mental mulai dilirik dan masuk perhatian berbagai lembaga, lalu siapa yang mengurus kesehatan sosial kita?
Kesehatan Sosial
Secara sederhana, kesehatan sosial bisa diartikan sebagai kemampuan kita untuk hidup bersama secara baik. Ada rasa saling percaya. Ada kepedulian terhadap sesama. Ada ruang untuk menerima perbedaan dan bekerja sama meski kita berbeda.
Orang yang sehat secara sosial tidak harus memiliki banyak teman atau selalu ramai. Mereka mungkin tidak terlalu terkenal di media sosial. Tapi mereka tahu bagaimana menjaga hubungan yang bermakna dengan orang lain, tanpa merusak atau mudah memusuhi, dan tahu aturan bersama.
Begitu juga dengan bangsa yang sehat secara sosial. Ukurannya bukan cuma tentang pembangunan jalan tol, gedung pencakar langit, atau pertumbuhan ekonomi.
Bangsa yang sehat secara sosial adalah bangsa yang warganya masih bisa saling percaya dan menjalin hubungan sosial dengan hangat. Di sini, bila ada kritik, tidak langsung dianggap sebagai musuh, dan perbedaan tidak langsung dianggap sebagai ancaman bagi kelompok.
BACA JUGA:'Umroh' Rasa Ampel: Mengalihkan Aliran Devisa ke Kantong UMKM Surabaya
BACA JUGA:Di Tengah Ketidakpastian Global, Kota Bisa Apa?
Namun, sebaliknya, bangsa yang sakit secara sosial dapat terlihat dari kebiasaan sehari-hari. Orang jadi mudah curiga, gampang marah, suka menghina, dan gampang menyebarkan fitnah.
Media sosial penuh dengan ujaran kebencian, dan perbedaan sekecil apa pun jadi bahan perseteruan dan sumber konflik. Kebenaran terkadang kalah cepat dari sensasi. Susah juga membedakan informasi yang benar dan yang hoaks.
Kalau kita perhatikan media sosial, kita sering kali melihat hal seperti ini: orang lebih memilih bertanya, “Ini menyerang kelompok saya atau lawan saya?” daripada bertanya, “Apakah ini benar?”. Saling mengalahkan jadi lebih penting daripada saling memahami.
Kesehatan sosial juga terlihat dari cara kita memperlakukan mereka yang lemah, seperti anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, atau kelompok yang terpinggirkan. Kalau mereka diabaikan, dijadikan bahan olok-olok, atau disalahkan, berarti ada yang tidak beres dalam kehidupan sosial kita.
Lalu, bagaimana cara mengukur kesehatan sosial kita? Tidak perlu alat canggih untuk mengukurnya. Kita bisa mulai dengan beberapa pertanyaan sederhana:
- Apakah kita masih saling percaya?
- Kalau tetangga kita sakit, apakah kita masih peduli?
- Jika ada musibah, apakah kita datang membantu, atau hanya merekam untuk konten?
- Apakah kita merasa menjadi bagian dari komunitas?
- Apakah kita merasa sendirian meski berada di keramaian?
- Apakah perbedaan masih bisa diterima dengan lapang dada?
- Apakah kita masih bisa berteman meskipun pilihan politik atau agama berbeda?
- Apakah kita merasa punya peran?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: