Di Tengah Ketidakpastian Global, Kota Bisa Apa?

Di Tengah Ketidakpastian Global, Kota Bisa Apa?

ILUSTRASI Di Tengah Ketidakpastian Global, Kota Bisa Apa?-Arya/AI-Harian Disway -

MENURUT Jamais Cascio dalam artikelnya, Facing the Age of Chaos, dunia kini memasuki era BANI: brittle (rapuh), anxious (cemas), nonlinear (tak linier), dan incomprehensible (sulit dipahami). Per April 2026, argumen itu kian terbukti dengan adanya gejolak politik seperti krisis Selat Hormuz atau perang dagang AS-Tiongkok yang kian panas sejak 2025.

Ketika kondisi-kondisi turbulen tersebut muncul, tentu saja efeknya tidak berhenti di level negara yang berseteru. Namun, ia merembet ke seluruh sistem internasional. 

Bagi Indonesia, misalnya, dampak datang dari berbagai arah sekaligus: naiknya harga, tekanan pada ekspor ke AS, dan potensi banjir produk Tiongkok yang mencari outlet baru, mengancam industri domestik yang selama ini sudah sulit bersaing.

Terkait dengan hal tersebut, kita dapat melihat respons yang muncul hampir sepenuhnya datang dari Jakarta. Delegasi dikirim ke Washington, Kementerian Perdagangan memperkirakan untung-rugi, presiden melakukan lobi diplomatik. 

BACA JUGA:Membicarakan Surabaya Raya: Kota yang Tumbuh Melampaui Batas Administratif

BACA JUGA:Kugadaikan Kotaku: Ketika Laut dan Hidup Dipertaruhkan

Semua bergerak di level nasional karena memang begitulah diplomasi tradisional bekerja, yakni dengan merespons isu secara terpusat oleh aktor terpusat pula.

Namun, jika kita lihat dari sudut pandang lain, dampak dari ketidakpastian global itu tidak turun secara merata. Mari kita tengok industri tekstil sebagai salah satu yang rentan. 

Sebagaimana dilansir Kompas, terdapat 3,98 juta tenaga kerja yang bahkan mayoritas tidak tinggal di Jakarta. 

Di Bandung, kelompok petani kopi dari Lembah Kamojang harus menangguhkan ekspor ke AS karena tarif membuat margin keuntungan mereka ambruk, mengancam 108 petani dan 97 pekerja UMKM dalam rantai produksinya. 

Di Bitung, sebuah perusahaan pengolahan tuna melakukan PHK terhadap 60 hingga 80 persen pekerjanya. Dari semua contoh, kita dapat melihat sebuah pola: krisis ini berwajah lokal.

BACA JUGA:Surabaya, Kota Revolusi dan Jebakan Rutinitas

BACA JUGA:Kota Lama di Surabaya, Sekadar Fenomena Hit ataukah Landmark Kota?

TANTANGAN MELIHAT LOKALITAS

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: