Di Tengah Ketidakpastian Global, Kota Bisa Apa?
ILUSTRASI Di Tengah Ketidakpastian Global, Kota Bisa Apa?-Arya/AI-Harian Disway -
Kedua adalah informasi mikro tentang aktor-aktor lokal manakah yang terdampak dan intervensi apa yang paling efektif. Informasi jenis kedua itulah yang berpotensi absen dari proses pengambilan kebijakan.
Pemerintah kota berada di posisi yang paling baik untuk memetakan hal tersebut. Misalnya, siapa saja eksportir kecil di kawasan industri kota yang bergantung pada pasar AS? Bagaimanakan brand kota bisa diselaraskan dengan visi-misi pembangunan? Apakah tren komunikasi yang disukai gen Z untuk menyesuaikan promosi UMKM?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak bisa dijawab dari Jakarta, tetapi bisa dijawab unit-unit pemerintahan kota yang memiliki akses langsung ke asosiasi pengusaha dan data masyarakat lokal.
Dengan kata lain, bahkan jika pemerintah kota belum siap menjalankan diplomasi secara aktif, mereka bisa memulai dari satu langkah yang lebih sederhana tetapi krusial: menjadi penyuplai data yang andal bagi kebijakan nasional.
Kebijakan yang baik dimulai dari data yang benar, dan data yang benar hanya bisa datang dari aktor yang benar-benar melihat apa yang terjadi di lapangan.
SAATNYA KOTA UNJUK GIGI
Semua argumen di atas mengarah pada satu kesimpulan, yakni sudah saatnya kota-kota Indonesia memiliki strategi luar negerinya sendiri.
Tentu saja bukan untuk menggantikan diplomasi nasional, melainkan untuk melengkapinya. Di tengah ketidakpastian, kadang pemerintah subnasional dapat menyediakan konsistensi itu sendiri.
Strategi tersebut tidak harus rumit. Ia bisa dimulai dari pemetaan potensi industri lokal, aktivasi sister-city untuk tujuan yang konkret, dan pembangunan kapasitas aparatur daerah dalam membaca sinyal global.
Pada akhirnya, strategi kota bukan semata soal ekspor. Ia adalah tentang ketangguhan dalam melayani publik meskipun Washington, Beijing, atau Brussel mengubah kebijakannya.
Membangun kapasitas semacam itu membutuhkan kerja lintas sektoral: antara pemerintah kota, asosiasi pengusaha, dan akademisi. Di titik itulah perlu terdapat jembatan antara pengetahuan global tentang diplomasi kota dan kebutuhan spesifik daerah yang belum terpetakan.
Sebab, pada akhirnya, kota yang tangguh bukan kota yang hanya melaksanakan arahan dari pusat. Ia adalah kota yang dapat bertindak fleksibel bahkan sebelum krisis berikutnya tiba. (*)
*) Ario Bimo Utomo, dosen hubungan internasional di UPN Veteran Jawa Timur, pengamat diplomasi kota.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: