Ketika Kesehatan Sosial Bangsa Sedang Sakit, Siapa Dokternya?
Mengukur kesehatan sosial bangsa: curiga, fitnah, dan kepercayaan yang mulai hilang.-Nano Banana 2-Nano Banana 2
Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang warganya merasa bisa berkontribusi, berbicara, dan memperbaiki keadaan.
Apakah ruang publik masih jernih? Apakah kita masih menghargai fakta? Apakah kita masih merasa malu berbohong, dan fitnah masih dianggap sesuatu yang memalukan?
BACA JUGA:Jembatan yang Tak Pernah Selesai
BACA JUGA:Bahasa Daerah di Ujung Senja
Jika kita jujur, kesehatan sosial itu sebenarnya terasa dalam kehidupan sehari-hari, di kampung, di kantor, di jalan raya, di media sosial, bahkan di ruang politik. Tidak perlu menunggu data statistik yang rumit, cukup lihat saja bagaimana kita saling berinteraksi dalam kehidupan keseharian kita.
Bangsa yang sehat sosialnya bukan berarti bebas dari konflik. Konflik itu wajar, tapi yang penting adalah bagaimana kita mengelolanya. Tidak semua perbedaan harus berakhir dengan permusuhan. Tidak semua kritik harus dibalas dengan saling lapor. Tidak semua kesalahan harus dihancurkan dengan kebencian.
Sayangnya, kita sering lebih fokus membangun citra daripada membangun kepercayaan. Kita lebih sibuk mengatur tampilan luar daripada memperbaiki hubungan sosial yang rapuh. Padahal, biaya sosial dari masyarakat yang sakit bisa sangat mahal. Kasus 1998 sebagai contohnya.
Kalau kita mulai kehilangan kepercayaan, semua jadi lebih sulit. Kebijakan yang baik pun dicurigai, bantuan sosial dianggap tidak transparan, hukum dipertanyakan, dan proses pemilu dicurigai. Begitu banyak kecurigaan, akhirnya energi kita habis hanya untuk saling menuduh dan mencurigai.
Maka dari itu, kesehatan sosial seharusnya menjadi agenda penting dalam kebijakan. Pendidikan harus lebih fokus pada membangun empati, bukan hanya mengejar nilai. Hukum harus dijalankan untuk menegakkan keadilan, bukan untuk menakut-nakuti yang lemah. Media harus menyebarkan informasi yang menyejukkan, bukan memperbesar kegaduhan dan kebisingan sosial. Agama harus menumbuhkan kasih sayang, bukan sekedar identitas kelompok.
Pada akhirnya, pertanyaan besarnya bukan hanya apakah bangsa ini sehat secara ekonomi atau politik, tapi apakah kita sudah sehat secara sosial? Jika kita masih bisa menolong tanpa pamrih, jika kita masih bisa saling percaya, jika kita masih bisa berbeda tanpa membenci, jika kita masih merasa malu berbohong, dan jika kita masih menghormati yang lemah, maka harapan kita masih ada.
Namun, jika yang tumbuh justru curiga, kebencian, fitnah, dan kemunafikan, kita perlu bertanya apakah bangsa ini sedang sehat secara sosial? Penyakit fisik mungkin bisa disembuhkan dengan obat. Tapi penyakit sosial seringkali lebih berbahaya karena kita sering tidak menyadari bahwa kita sedang sakit.
*) Guru Besar Psikologi Sosial Universitas Airlangga dan Rektor Universitas 45 Surabaya 2025–2029.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: