Bahasa Daerah di Ujung Senja

Bahasa Daerah di Ujung Senja

ILUSTRASI Bahasa Daerah di Ujung Senja.-Arya/AI-Harian Disway -

PADA 2024, UNESCO merilis Atlas of the World’s Languages in Danger yang membuat sebagian besar warga dunia terhenyak seketika. Rilis itu menegaskan bahwa sekitar 40 persen bahasa di dunia terancam punah. Saat itu diperkirakan terdapat 6.000–7.000 bahasa global dan lebih dari 3.000 di antaranya berisiko hilang. 

Rilis itu pun mengingatkan, rata-rata 1 bahasa punah setiap 2 pekan. Artinya, 25–30 bahasa menghilang setiap tahun. Yang menyedihkan, sekitar 90 persen populasi dunia hanya memakai 100 bahasa. 

Padahal, ada ribuan bahasa lain yang hanya digunakan oleh komunitas kecil (kurang dari 10.000 orang) dan mereka paling rentan punah. Dalam rilis itu, UNESCO mengklasifikasikan status bahasa mulai rentan, terancam, hingga kritis berdasar jumlah penutur dan transmisi antargenerasi.

Indonesia kerap dibanggakan sebagai salah satu negara dengan kekayaan bahasa terbesar di dunia. Sayang, kebanggaan itu dibayangi kenyataan yang mengkhawatirkan, banyak bahasa daerah kita berada di ambang kepunahan. Sebagai salah satu episentrum keragaman linguistik global, tentu Indonesia tidak kebal dari ancaman tersebut. 

BACA JUGA:Dari Pliket hingga Kunduran: Merawat Bahasa Daerah dengan Leksikografi di Ruang Kelas

BACA JUGA:Merawat Bahasa Daerah, Menjaga Identitas

Data Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menunjukkan, hingga 2026 Indonesia memiliki sekitar 718 bahasa daerah, menjadikannya sebagai negara dengan jumlah bahasa terbanyak kedua di dunia. Namun, tidak semua bahasa tersebut berada dalam kondisi aman. 

Pemutakhiran data tahun 2024–2025 menunjukkan, 5 bahasa daerah telah punah, 8 bahasa dalam kondisi kritis, 29 bahasa terancam punah, dan hanya 18 bahasa yang benar-benar aman dari ancaman kepunahan. 

Tentu angka-angka tersebut bukanlah sekadar data statistik semata. Itu adalah alarm dan kode keras bahwa kita sedang dalam kondisi kehilangan warisan budaya secara perlahan, tapi pasti.

BAHASA YANG KEHILANGAN PENERUS

Kepunahan bahasa daerah bukan sekadar fenomena alamiah, melainkan cermin dari pilihan sosial, politik, dan budaya kita sendiri. Salah satu penyebab utama punahnya bahasa daerah adalah terputusnya ahli waris antargenerasi. 

BACA JUGA:Aksara Jawa dan Bahasa Jawa Kromo Menunggu Kebijakan Politik Bahasa Daerah

BACA JUGA:Ditambah 20, Total Ada 59 Bahasa Daerah di Indonesia

Di banyak keluarga, orang tua tidak lagi menggunakan bahasa ibu kepada anak-anaknya. Alasannya beragam, mulai ingin anak lebih fasih berbahasa Indonesia, tuntutan pendidikan formal, hingga anggapan bahwa bahasa daerah tidak lagi relevan di era modern. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: