Aksara Jawa dan Bahasa Jawa Kromo Menunggu Kebijakan Politik Bahasa Daerah

Aksara Jawa dan Bahasa Jawa Kromo Menunggu Kebijakan Politik Bahasa Daerah

Kondisi yang mengkhawatirkan terjadinya kepunahan bahasa Jawa adalah karena semakin banyak orang Jawa yang tidak mampu membaca dan menulis aksara Jawa. -iStock-

HARIAN DISWAY - Bahasa tetap bertahan selama dipraktikkan sebagai komunikasi sehari-hari. Ini merupakan prasyarat utama supaya tidak terjadi kepunahan. Sebab kepunahan aksara dan bahasa bukan mustahil.

Berdasarkan data Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek, 11 bahasa daerah telah punah. Sebagian di wilayah Maluku dan Papua Barat. Sebagian bahasa daerah itu mengalami kondisi berbeda-beda yang diklasifikasikan dalam kategori stabil. Tetapi mengalami kemunduran, terancam punah, dan kritis.

Salah satu bahasa daerah di Indonesia itu adalah bahasa Jawa. Jutaan penutur di Indonesia menggunakannya. Maka, agak berlebihan jika disebut bahwa bahasa Jawa dengan beragam dialeknya akan punah. Namun, tanda-tanda ketidakmampuan mempraktikkan bahasa Jawa halus itu mulai tampak.

BACA JUGA: Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional 21 Februari, Fondasi Identitas Kultural dan Komunitas yang Kuat

Dalam bahasa Jawa, dikenal tingkatan tutur. Yakni kromo dan ngoko dengan beberapa variannya. Penggunaan bahasa Jawa yang selama ini sering didengar adalah bahasa Jawa ngoko. Kadang kala dikombinasikan kromo.

Sementara bahasa Jawa ngoko cenderung stabil. Sedangkan kromo inggil tengah mengalami penurunan dalam praktik sehari-hari atau sedang mengalami kemunduran.

Bahasa Jawa kromo inggil dalam status menuju terancam punah kemungkinan dapat terjadi. Berkurangnya penutur bahasa kromo inggil dapat bercermin pada kemampuan bahasa Jawa orang Jawa Suriname.

Jawa Suriname sesungguhnya merupakan orang Jawa tulen. Generasi pertama yang dipindahkan ke Suriname secara bertahap sebagai kuli kontrak pada akhir abad ke-19 hingga menjelang runtuhnya pemerintah Hindia Belanda.

Generasi pertama tidak diragukan kemampuan berkomunikasi menggunakan Jawa kromo maupun ngoko. Namun, generasi berikutnya yang kini menjadi orang tua hanya mampu menguasai Jawa (ngoko). Sementara anak-anak dan pemuda mulai jarang menggunakan bahasa Jawa ngoko sekalipun.

Kenyataan ini menjadi bukti bahasa Jawa tercerabut dari orang Jawa generasi muda Suriname. Tercerabutnya bahasa dari pengguna karena kuatnya pengaruh dari unsur eksternal, seperti lingkungan sosial, guru, buku, dan media massa/elektronik, yang telah mengubah kemampuan berbahasa Jawa pada anak-anak dan pemuda Jawa Suriname. 

Komunikasi sehari-hari menggunakan bahasa Belanda baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan sosial. Oleh karena itu, kemahiran komunikasi yang terbentuk menggunakan bahasa Belanda dibandingkan bahasa Jawa. 

Apakah hal ini akan dialami oleh orang Jawa di Jawa, suatu saat nanti tidak mampu berbahasa kromo?
Aksara Jawa dilestarikan di Kota Pahlawan mulai 25 September 2023 dengan keputusan Pemkot Surabaya yang menerapkan penulisan aksara Jawa pada papan nama di masing-masing organisasi perangkat daerah (OPD). Sebagaimana yang ada di muka gedung Balai Kota Sur--

Jawa ngoko masih stabil digunakan sebagai bahasa tutur di kehidupan sehari-hari di mana pun tempatnya di Jawa. Demikian juga Jawa kromo sering terdengar digabungkan dengan ngoko. Ini bahasa Jawa kromo merupakan wujud praktik kesantunan perilaku komunikasi. 

Namun, ada kecenderungan sebagian orang tidak mampu mengucapkan kromo inggil yang lengkap. Konsekuensinya pada pilihan mengungkapkan ide-ide atau pikiran yang disampaikan berdasarkan kebiasaan berbahasa seseorang. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: