WFH, Krisis Geopolitik, dan Tantangan Hotel Surabaya
Dampak Krisis Geopolitik dan WFH Terhadap Industri Perhotelan Surabaya.-Salman Muhiddin-Nano Banana 2
Apa yang memanas di Timur Tengah, apa yang menegang dalam hubungan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, dapat menimbulkan gelombang ekonomi yang menjalar ke berbagai sektor, termasuk sektor pariwisata dan perhotelan di Surabaya.
Industri pariwisata adalah salah satu sektor yang paling peka terhadap perubahan global. Sedikit saja muncul ketidakpastian, maka mobilitas manusia ikut berubah. Ketika harga energi berfluktuasi, biaya perjalanan meningkat.
Ketika situasi politik internasional memburuk, dunia usaha menjadi lebih hati-hati. Ketika ketidakpastian ekonomi membesar, institusi pemerintah maupun swasta mulai menghitung ulang pengeluaran, termasuk perjalanan dinas, rapat luar kota, dan agenda pertemuan tatap muka. Pada titik inilah, industri hotel mulai merasakan dampak yang nyata.
Surabaya memiliki posisi yang sangat penting dalam lanskap ekonomi Jawa Timur. Kota ini bukan hanya pusat perdagangan dan jasa, tetapi juga salah satu simpul utama aktivitas bisnis, industri, dan pertemuan antarlembaga.
Karena itu, denyut hotel di Surabaya selama ini tidak hanya bertumpu pada wisatawan rekreasi, tetapi juga pada tamu bisnis. Banyak kamar hotel terisi bukan semata karena orang ingin berlibur, melainkan karena ada rapat, konferensi, perjalanan dinas, pelatihan, atau agenda korporasi lainnya.
BACA JUGA:Belajar Bisnis Sambil Berinovasi, Curiosa Grup UK Petra Sajikan Pengalaman Hotel ala Wonderland
BACA JUGA:Long Weekend di Surabaya Saja? Ini 6 Hotel dengan Vibes Modern dan Elegan untuk Staycation
Di tengah konteks krisis global, muncul satu kebijakan yang semakin luas diterapkan, yaitu Work From Home atau WFH. Dari perspektif organisasi, WFH adalah solusi yang masuk akal.
Kebijakan ini memungkinkan pekerjaan tetap berjalan tanpa harus mengandalkan mobilitas yang tinggi. Perusahaan dapat menekan biaya operasional. Instansi dapat mengurangi risiko perjalanan.
Karyawan tetap bekerja tanpa harus hadir di kantor setiap hari. Dalam situasi tidak pasti, WFH sering dipandang sebagai bentuk efisiensi sekaligus adaptasi.
Akan tetapi, setiap kebijakan memiliki konsekuensi lanjutan. Bagi sektor perhotelan, khususnya di kota bisnis seperti Surabaya, WFH bukan sekadar perubahan pola kerja.
WFH berarti penurunan perjalanan dinas. WFH berarti berkurangnya pertemuan tatap muka. WFH berarti sebagian kegiatan yang dahulu membutuhkan hotel kini cukup dilakukan melalui layar laptop. Dampaknya sederhana, tetapi serius: permintaan kamar hotel menurun.
Kondisi ini menjadi semakin terasa ketika dunia usaha dan pemerintahan mulai membiasakan diri dengan kerja fleksibel. Jika sebelumnya pertemuan antarkota hampir selalu membutuhkan akomodasi, kini banyak agenda dapat dilakukan secara daring.
BACA JUGA:AS Klaim Dua Kapal Perang “Terobos” Selat Hormuz, Iran Langsung Membantah
BACA JUGA:Perundingan Islamabad Gagal Total, Iran Sebut Karena Tuntutan AS berlebihan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: