Analisis dan Harapan Konstuktif dari Kunjungan Presiden Prabowo ke Rusia
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mendapat sambutan hangat dari Presiden Federasi Rusia, Vladimir Putin, saat melakukan pertemuan di Istana Kremlin, Moskow, pada Senin, 13 April 2026-Dok. Setpres-

--
Oleh: Ulul Albab
Dosen FIA Universitas Dr. Soetomo, Ketua ICMI Jawa Timur
Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia telah memantik kegelisahan lama di panggung global, terutama di Barat. Bukan karena Indonesia melakukan sesuatu yang salah, tetapi justru karena Indonesia mulai melakukan sesuatu yang selama ini dihindari: bersikap mandiri.
Di tengah narasi besar yang dibangun Amerika Serikat dan sekutunya tentang “tatanan dunia berbasis aturan” (rules-based order), ada ironi yang jarang diakui. Aturan itu kerap kali lentur, bahkan menghilang, ketika kepentingan Barat sendiri yang dipertaruhkan.
Invasi bisa disebut “intervensi kemanusiaan”. Sanksi ekonomi dijustifikasi sebagai “alat perdamaian”. Tetapi ketika negara lain mencoba menjalin hubungan di luar orbit Barat, tiba-tiba muncul istilah “ancaman stabilitas global”.
Di titik inilah maka kita bisa melihat bahwa kunjungan Presiden Prabowo ke Moskow menjadi penting. Bukan sekadar diplomasi bilateral, tetapi justru bentuk koreksi terhadap ketimpangan narasi global.
BACA JUGA:Prabowo Temui Macron di Paris setelah dari Rusia, Bahas Alutsista hingga Energi Terbarukan
BACA JUGA:Prabowo Ucapkan Selamat Paskah dan Hari Kosmonaut kepada Putin, Tunjukkan Kedekatan RI–Rusia
Selama ini, negara-negara berkembang seperti Indonesia sering kali didorong untuk memilih: bersama Barat atau dianggap menyimpang. Padahal dunia telah berubah. Kekuatan global tidak lagi tunggal. Rusia, Tiongkok, dan blok baru seperti BRICS telah membuka alternatif, bukan tanpa masalah, tetapi cukup untuk mematahkan monopoli lama. Dan sepertinya Indonesia membaca ini dengan jernih.
Kerja sama di sektor energi, misalnya. Ketika harga energi global bergejolak dan pasokan tidak stabil, menutup pintu terhadap Rusia hanya karena tekanan politik adalah kemewahan yang tidak bisa dimiliki negara berkembang.
Namun Barat kerap melihatnya berbeda. Hubungan dengan Rusia dianggap sebagai penyimpangan, seolah-olah dunia masih berada dalam satu garis komando moral yang sama. Inilah ilusi itu, ilusi bahwa Barat masih menjadi satu-satunya pusat legitimasi global. Padahal, legitimasi hari ini sedang diperebutkan.
Lebih jauh, kritik Barat terhadap negara-negara yang menjalin hubungan dengan Rusia sering kali mengabaikan rekam jejaknya sendiri. Dari Timur Tengah hingga Asia, intervensi Barat telah meninggalkan jejak panjang konflik, instabilitas, dan ketergantungan. Namun narasi tentang “demokrasi” dan “hak asasi manusia” tetap dijadikan alat pembenaran. Kabar baiknya, Indonesia tampaknya mulai lelah dengan standar ganda ini.
Langkah Prabowo ke Kremlin mengirimkan pesan tegas: bahwa Indonesia tidak akan lagi menjadi objek dalam permainan geopolitik global. Indonesia ingin menjadi subjek, aktor yang menentukan pilihan berdasarkan kepentingan nasionalnya sendiri, bukan tekanan eksternal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: