Perang Timteng Berlanjut, Rupiah Tertekan ke Level Rp18.114 per Dolar AS

Perang Timteng Berlanjut, Rupiah Tertekan ke Level Rp18.114 per Dolar AS

Rupiah melemah terhadap Dolar pagi ini-istockphoto-

JAKARTA, HARIAN DISWAY – Indeks dolar Amerika Serikat (AS) terpantau menguat pada hari perdagangan Kamis 30 Juli 2026.

Kondisi itu langsung memberikan tekanan signifikan bagi mata uang Garuda. Rupiah harus menutup hari di zona merah, melemah 41 poin ke level Rp18.114 per dolar AS, setelah sempat mencatatkan penguatan tipis sebesar 15 poin di awal sesi.  

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi mengungkapkan, situasi geopolitik global menjadi katalis utama penguatan dolar AS saat ini.

Ketegangan memuncak setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman serangan keras terhadap Iran pascaserangan rudal ke pangkalan AS di Yordania.

Selain itu, keterlibatan Arab Saudi dalam serangan udara bersama AS terhadap paramiliter yang didukung Iran di Irak menambah ketidakpastian pasar.

 "Konflik yang meluas ini telah mengganggu stabilitas pasokan energi dunia, terutama setelah Iran menutup jalur perairan vital pascapecahnya perang AS-Israel pada 28 Februari lalu. Situasi semakin rumit dengan blokade laut yang diberlakukan kelompok Houthi di Laut Merah sejak 20 Juli," ujar Ibrahim dalam analisisnya, Kamis sore. 

BACA JUGA:Destry Tegaskan BI Tetap Intervensi Pasar, Stabilitas Rupiah Jadi Prioritas

BACA JUGA:Dampak Perang Timur Tengah, Analis Prediksi Rupiah Melemah ke Rp18.000 Pekan Ini

Dari sisi kebijakan moneter, Bank Sentral AS (The Fed) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,50 hingga 3,75 persen.

Namun, keputusan tersebut diambil dengan suara terpecah (9-3). Tiga pejabat yakni Beth Hammack (Cleveland Fed), Neel Kashkari (Minneapolis Fed), dan Lorie Logan (Dallas Fed) menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Ketua Fed, Kevin Warsh, menegaskan bahwa komite siap bertindak jika tekanan inflasi kembali meningkat.  

Di dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga diperparah oleh proyeksi perlambatan ekonomi.

Ekonom memprediksi pertumbuhan ekonomi kuartal II/2026 hanya akan berada di kisaran 4,8 persen hingga 4,9 persen, melambat tajam dibandingkan realisasi kuartal I/2026 yang sempat menyentuh 5,61 persen.

Tingginya biaya produksi akibat gejolak global, kebijakan moneter ketat, serta ketidakpastian fiskal domestik menjadi faktor utama pemicu perlambatan.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: