Sindiran Cerdas Iran Mematahkan Ancaman Trump
ILUSTRASI Sindiran Cerdas Iran Mematahkan Ancaman Trump.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
ADA yang menarik dari konflik Iran dan Amerika Serikat-Israel dalam beberapa pekan terakhir. Orang tentu melihat rudal, drone, kapal perang, dan ancaman serangan. Namun, ada satu medan lain yang tak kalah panas: medan kata-kata. Di sana yang bertarung bukan cuma senjata, melainkan juga kecerdasan, kesan, dan kelihaian membentuk cerita.
Donald Trump, kita paham, datang dengan gaya yang sudah lama dikenal publik: keras, langsung, dan suka membuat semuanya terdengar besar.
Ancaman soal ”stone age”, ultimatum soal Selat Hormuz, sampai wacana menyerang jembatan dan pembangkit listrik, semua keluar dengan nada yang ingin terdengar tegas dan menakutkan.
Dari pihak Iran, ancaman itu justru sering dibalas dengan kalimat yang lebih pendek, lebih ringan, lebih dingin, tapi terasa lebih menancap.
BACA JUGA:Dari Konflik ke Krisis Ekologis, Pelajaran dari Agresi Amerika Serikat-Israel ke Iran
BACA JUGA:Mengapa AS-Israel Takut Iran Punya Bom Nuklir?
Salah satu yang paling gampang diingat adalah sindiran Iran bahwa perang tidak dimenangkan lewat media sosial. Itu bukan sekadar ejekan receh. Yang diserang bukan cuma isi ancamannya, tetapi juga gaya Trump sendiri: ramai, meledak-ledak, dan seolah semua bisa diselesaikan lewat panggung medsos. Iran seperti sengaja berdiri di posisi sebaliknya: tidak banyak gaya, tegas, dan tidak goyah.
Di sini permainannya mulai terlihat.
Bukan cuma soal siapa yang lebih keras, bukan soal siapa yang paling banyak mengancam, melainkan siapa yang lebih pandai mengatur kesan.
Sindiran itu lalu naik satu tingkat ketika nama operasi militer AS-Israel, ”Epic Fury”, dipelintir menjadi ”Epic Fear”. Cuma satu kata yang diganti, tetapi efeknya besar. Dari kemarahan menjadi ketakutan. Yang tadinya mau terdengar gagah dipaksa terdengar gugup.
BACA JUGA:Menakar Iran Pasca-Ali Khamenei
BACA JUGA:Perang Iran-Israel, Tanda Bahaya dari Timur Tengah
Dalam perang media seperti itu, permainan kata memang kelihatan remeh. Namun, justru di situlah pukulannya. Bayangkan saja, berapa juta orang hari ini hidup di media sosial, membaca cepat, menangkap pesan pendek, lalu menyebarkannya lagi dalam hitungan detik.
Di ruang digital seperti itu, satu pelintiran kata terkadang bisa lebih berdampak daripada pidato panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: