Sindiran Cerdas Iran Mematahkan Ancaman Trump
ILUSTRASI Sindiran Cerdas Iran Mematahkan Ancaman Trump.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
Contoh lain, ketika Trump mengancam membawa Iran kembali ke ”zaman batu”. Dari pihak Iran, respons yang menonjol justru bukan nada panik, melainkan penegasan bahwa ancaman seperti itu brutal, menyasar sarana vital bagi warga sipil, dan bertentangan dengan hukum internasional.
Dalam pembacaan seperti itu, Iran tampak berusaha menggeser kesan: dari ancaman yang mau terlihat kuat menjadi ancaman yang justru tampak agresif, liar, dan tidak sah.
BACA JUGA:Iran vs Israel: The Clash of Wills (Pertarungan Kehendak)
BACA JUGA:Di Balik Jual Beli Serangan Israel-Iran
Makin tampak bedanya. Trump berbicara dengan logika daya rusak. Iran membalas dengan logika martabat, hukum, dan peradaban. Yang satu ingin menakut-nakuti. Yang lain menjawab dengan bahasa tegas bahwa bangsa Iran tidak bisa diperkecil hanya oleh ancaman seorang presiden Amerika Serikat (AS).
Kritik serupa muncul di The Atlantic. Dalam artikelnya, Trump’s Stone Age Threat Will Lead to Tragedy, Graeme Wood menilai bahasa seperti itu bukan tanda kekuatan, melainkan jalan yang bisa memperburuk eskalasi. Ancaman yang terlalu ekstrem, alih-alih membuat AS tampak berwibawa, justru bisa merusak posisi moral dan strategisnya sendiri.
Nada yang lebih jenaka muncul ketika ultimatum soal Hormuz dibalas dengan ”you’re fired”. Tiga kata tersebut jelas bukan ejekan biasa. Itu adalah simbol Trump sendiri yang dipinjam, lalu diarahkan kembali kepadanya. Kalimat yang dulu ia pakai untuk menunjukkan kuasa kini dipakai untuk mengecilkan wibawanya.
Singkat, padat, dan kena.
Dan, justru karena singkat, ia gampang diingat.
Trump datang sebagai sosok yang ingin terlihat berkuasa menentukan nasib orang lain. Namun, Iran membalik momen itu sehingga tampak dipermainkan kalimatnya sendiri. Diplomasi berkelas, ancaman tidak hanya dibalas, tetapi diubah jadi bahan olok-olok. Aura ancamannya ikut turun.
Ada juga respons yang lebih tenang ketika ancaman diarahkan ke infrastruktur dan fasilitas strategis. Ketika jembatan dan pembangkit listrik diancam, Iran tidak membalas dengan nada panik, tetapi menekankan bahwa serangan terhadap fasilitas semacam itu menyasar kebutuhan vital warga sipil dan berpotensi melanggar hukum internasional.
Dalam kerangka tersebut, ancaman itu bahkan disebut bisa masuk wilayah kejahatan perang. Di sana Iran seperti ingin menggeser ukurannya: bukan cuma soal daya hancur, melainkan juga soal pijakan moral.
Itu penting. Sebab, dalam konflik modern, citra moral tidak berdiri di pinggir. Ia ikut bertarung di tengah. Citra moral berfungsi sebagai penentu legitimasi: siapa yang dianggap pantas, siapa yang dipercaya, dan siapa yang mulai diragukan.
Ketika satu pihak berhasil menjaga pijakan moralnya, sementara pihak lain tampak berlebihan atau melanggar batas, persepsi publik bisa berubah. Dari sanalah dukungan ikut berpindah.
Yang juga menarik, Iran tidak selalu membatasi sindirannya pada medan perang semata. Dalam beberapa momen, serangannya menyentuh reputasi Trump sendiri, termasuk lewat sindiran yang mengaitkan ucapannya dengan ”Epstein Island”. Itu serangan ke pamor dan citra seorang presiden.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: