Di Balik Jual Beli Serangan Israel-Iran

Di Balik Jual Beli Serangan Israel-Iran

ILUSTRASI perang Israel-Iran.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

GEJOLAK terjadi di Timur Tengah terlihat saat Iran meluncurkan ratusan rudal dan pesawat nirawak untuk menembus lima lapis pertahanan di ibu kota Israel, Tel Aviv. rudal balasan dari Iran terhadap Israel mengandung implikasi dari nilai-nilai strategis yang menjadi perhatian penting bagi pengambil kebijakan kedua negara yang bertikai. 

Sebelumnya, masih di awal April, Israel melakukan aksi frontal dengan melancarkan serangan langsung dengan menarget gedung di kompleks Kedutaan Besar Iran di Damaskus, Suriah. Akibatnya, dua jenderal kebanggaan militer negara eks kerajaan Persia itu tewas. 

BACA JUGA: Perang Iran vs Israel dan Instabilitas Pasar Komoditas Dunia

SHOW OF FORCE BERAKIBAT FATAL

Perlu untuk melihat lebih jauh tentang motif Israel dalam menembakkan rudal ke Suriah. Tidak lain tidak bukan adalah tantangan dari Tel Aviv untuk menggiring urat saraf Teheran. 

Melalui serangan rudal presisi Israel terhadap kedubes Iran, Israel berusaha menunjukkan kemampuan riil deterrence yang dimiliki Israel Defence Force (IDF) dengan kemampuan persenjataan yang disokong mayoritas oleh Amerika Serikat (AS). 

Di saat yang bersamaan, tindakan Israel membuat Iran yang sebelumnya telah berhasil meyakinkan sekutunya dari Lebanon dan Yaman untuk bersiap mengacaukan keamanan Israel sontak menjadi gentar karena teralih perhatiannya. 

BACA JUGA: Israel Serang Balik Iran! Drone Ditembak Jatuh di Langit Isfahan, Ada Ledakan di Fasilitas Nuklir

Tekanan besar terukur ditunjukkan Israel untuk mengunci posisi Iran dalam posisi limbo dan dilematis untuk merespons dengan tindakan yang lebih jauh lagi. Kendati demikian, Israel justru mengalami miskalkulasi dengan kapabilitas alutsista sebagai deterrence berpengaruh terhadap Iran sehingga berakibat meningkatnya eskalasi konflik menjadi makin meruncing. 

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam mengambil kebijakan luar negeri dan pertahanan dapat dipastikan banyak terpengaruh oleh faksi Likud yang menjabat di Knesset alias DPR Israel maupun di kabinet pemeritahannya. 

Partai Likud yang beraliran konservatif cenderung mengarah pada karakteristik kebijakan luar negeri yang cenderung hawkish terhadap lawan Israel seperti milisi Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Palestina.

BACA JUGA: Israel Balas Iran, 3 Ledakan Terdengar di Pangkalan Udara Shekari Isfahan

MELIHAT KONFLIK DARI DUA SISI

Pengambilan kebijakan keamanan di Israel melibatkan suatu proses yang kompleks di mana tersentral pada peran PM Israel mengambil peran kuasi-presidensial yang mana idealnya di negara-negara lain presiden justru yang memegang posisi sebagai commander-in-chief. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: