Menakar Iran Pasca-Ali Khamenei
ILUSTRASI Menakar Iran Pasca-Ali Khamenei.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
AYATOLLAH Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Republik Islam Iran, wafat setelah serangan gabungan dari AS dan Israel yang menghancurkan kediamannya pada 28 Februari 2026. Tercatat bahwa pesawat tempur Israel menjatuhkan 30 bom untuk menghancurkan tempat tinggal Khamenei.
Serangan itu mengakibatkan kekosongan kekuasaan di Iran. Sekalipun Iran memiliki presiden, peran pemimpin tertinggi (rahbar) merupakan yang paling sentral dalam pemerintahan negara tersebut. Ditambah, pemimpin tertinggi juga memiliki status yang begitu terhormat dalam struktur sosio-religius Islam Syiah, aliran agama resmi Iran.
Khamenei adalah wajah Iran kontemporer, sekaligus simbol perlawanan terhadap negara-negara Barat. Kematiannya yang begitu brutal karena serangan dua negara musuh Iran, ditambah dengan posisi Khamenei sebagai pemimpin tertinggi negara sekaligus ulama besar Syiah, jelas mengguncang tatanan politik Iran.
BACA JUGA:Tiga Syarat Iran
BACA JUGA:Presiden Iran Tetapkan Tiga Syarat untuk Mengakhiri Perang
Iran telah masuk survival mode –mempersiapkan segalanya untuk membalas dendam dan mempertahankan diri. Sejalan dengan situasi itu, Mojtaba Khamenei, anak Ali Khamenei yang menjadi pemimpin tertinggi Iran yang baru, sangat mungkin menjadi lebih agresif jika dibandingkan dengan Khamenei.
Berlawanan dengan asumsi Presiden AS Donald Trump yang ingin operasi militer berakhir cepat dan mulus, konflik AS-Iran justru berpotensi berlangsung makin lama dan mahal, dengan konsekuensi besar yang harus ditanggung AS sendiri.
KEDUDUKAN RAHBAR DALAM POLITIK IRAN
Posisi rahbar merupakan jabatan tertinggi di Iran. Iran menganut sistem wilayatul faqih, yang dalam konsep Syiah menempatkan pemimpin agama juga sebagai pemimpin politik suatu negara.
BACA JUGA:Hari Ke-13 Perang, Iran Lancarkan Serangan Paling Masif pada Malam Lailatul Qadar
BACA JUGA:Evakuasi WNI dari Iran Dimulai, 22 Orang Tiba di Tanah Air
Konstitusi Republik Islam Iran menyatakan bahwa rahbar menjadi pucuk pimpinan dari sejumlah institusi, mulai dewan keamanan nasional, angkatan bersenjata, mahkamah agung, media nasional, hingga lembaga penasihat tinggi negara.
Selain itu, rahbar memberikan pertimbangan pada rancangan undang-undang, menyeleksi para calon presiden sebelum pemilu, dan menunjuk hakim. Singkatnya, rahbar adalah pusat kekuasaan di Iran.
Dengan wafatnya Khamenei, pemerintah Iran bergerak cepat. Tanggal 1 Maret 2026, sebuah dewan kepemimpinan interim dibentuk untuk melaksanakan fungsi rahbar, beranggota Alireza Arafi (anggota Dewan Wali Iran), Gholam Mohseni Eje’i (hakim agung Iran), Mohammad Bagher Ghalibaf (ketua parlemen Iran), dan Massoud Pezeshkian (presiden Iran).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: