Menakar Iran Pasca-Ali Khamenei

Menakar Iran Pasca-Ali Khamenei

ILUSTRASI Menakar Iran Pasca-Ali Khamenei.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

BACA JUGA:Nasib Haji 2026 di Tengah Perang AS–Israel vs Iran, Kemenhaj Siapkan 4 Skenario Keberangkatan

BACA JUGA:Trump Telepon Putin 1 Jam, Diminta Akhiri Konflik dengan Iran secara Diplomatik

Alireza Arafi kemudian ditunjuk menjadi pelaksana tugas pemimpin tertinggi hingga terpilihnya pemimpin baru. Hanya satu pekan setelahnya, pada 8 Maret 2026, Majelis Para Ahli memilih Mojtaba Khamenei untuk menggantikan ayahnya sebagai rahbar.

TERPILIHNYA MOJTABA KHAMENEI

Sebelumnya, telah banyak spekulasi soal calon pemimpin tertinggi pengganti Khamenei. Khamenei telah memimpin Iran sejak 1989, telah berusia lebih dari 80 tahun, dan memiliki kondisi kesehatan yang terus menurun. 

Menurut pengamat politik Iran Saeid Golkar, rentetan pergolakan politik internal di Iran sejak tahun 2018 telah berulang-ulang menggoyang posisi Khamenei dan menimbulkan spekulasi soal pergantian kepemimpinan. Akan tetapi, posisi Khamenei tetap tidak tergoyahkan dan didukung segenap anggota Majelis Para Ahli.

Setelah wafatnya Khamenei, siapa yang akan menggantikannya dan bagaimana proyeksi kepemimpinannya di masa mendatang? 

Terdapat sejumlah nama yang mencalonkan diri sebagai rahbar: Alireza Arafi, Ali Larijani (sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran), Hassan Khomeini (cucu Ruhollah Khomeini, pendahulu Ali Khamenei), Mahdi Mirbagheri, Mojtaba Khamenei, dan Sadiq Larijani.

Mojtaba Khamenei menjadi sosok yang terpilih menggantikan ayahnya. Ia merupakan seorang ulama konservatif Syiah yang besar dari hauzah (sejenis pesantren Syiah) di Kota Qom. Dikabarkan bahwa ia memperoleh dukungan signifikan dari Tentara Revolusi Islam (IRGC). 

Hal itu mengindikasikan sikap politiknya yang mampu melanjutkan upaya perlawanan terhadap agresi AS dan Israel, baik secara militer maupun diplomatik, sebagaimana mendiang ayahnya. 

Beberapa analis juga menilai bahwa Mojtaba memiliki ambisi yang lebih kuat untuk membangun senjata nuklir sebagai upaya Iran untuk mempertahankan posisinya di tengah tekanan kuat AS-Israel di Timur Tengah. 

PERANG ASIMETRIS BERKEPANJANGAN

Terpilihnya Mojtaba Khamenei jelas menegaskan posisi Iran yang makin konfrontatif terhadap AS. Iran akan menjadi negara yang agresif dan siap melakukan apa saja demi membalas kematian ulama besar dan pemimpin tertinggi mereka. Memang, banyak aset militer Iran yang dihancurkan AS-Israel. 

Analisis Institute for the Study of War (ISW) menyebutkan bahwa setidaknya 6 jet tempur dan 11 kapal perang Iran telah hancur dan AS-Israel hampir menguasai ruang udara Iran. 

Namun, Iran masih memiliki ribuan rudal balistik yang dapat meluncur kapan saja. Kelompok proksi Iran seperti Al-Houthi juga telah menyatakan akan menutup Selat Bab Al-Mandab yang begitu strategis di mulut Laut Merah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: