Lumpuhnya Hukum dalam Prahara Iran
ILUSTRASI Lumpuhnya Hukum dalam Prahara Iran.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
Namun, kenyataan di Teheran menunjukkan hal yang sebaliknya. Tragedi di Minab School, saat lebih dari 160 anak perempuan meninggal karena misil rudal Tomahawk, adalah bukti nyata bahwa hukum humaniter internasional sedang mengalami kelumpuhan total.
Gedung sekolah, rumah sakit, dan fasilitas publik yang seharusnya menjadi zona terlarang kini justru menjadi sasaran dalam logika perang teknologi yang presisi, tetapi nir-empati.
BACA JUGA:Di Balik Jual Beli Serangan Israel-Iran
Gejala itu makin diperparah dengan munculnya fenomena imperial presidency atau pemimpin-pemimpin kuat yang mendikte hukum sesuai keinginan mereka. Di tangan para pemimpin otoritarian dan illiberal, parlemen sering kali hanya menjadi stempel pembenaran atas agresi militer.
Meski konstitusi Amerika Serikat pada pasal 1 bagian 8 mewajibkan persetujuan Kongres untuk menyatakan perang, doktrin pre-existing authorization sering digunakan untuk menyiasati persyaratan tersebut.
Dalam kondisi seperti itu, hukum nasional maupun internasional tidak lagi berfungsi sebagai pengendali, tetapi sebagai alat legitimasi bagi kekuasaan yang kasar dan brutal. Kita sedang menapaki senja kala hukum internasional, yaitu kekuatan otot lebih dihargai daripada kekuatan argumen hukum.
DETERENSI RUNTUH DI SELAT HORMUZ
Di sisi lain, Iran kini menghadapi apa yang disebut sebagai strategic loneliness (kesendirian strategis). Selama puluhan tahun, Iran membangun doktrin forward defense dengan memproyeksikan kekuatan melalui jaringan proksi seperti Hizbullah, Houthi, dan berbagai milisi di kawasan.
Namun, strategi yang mereka anggap sebagai pertahanan itu justru dibaca sebagai ancaman oleh negara-negara tetangganya. Akibatnya, ketika rudal Israel dan Amerika Serikat menghantam fasilitas mereka, dunia Islam cenderung diam.
Rusia dan Tiongkok yang selama ini menjadi mitra strategis juga memilih untuk menjaga jarak demi kepentingan nasional masing-masing.
Kepentingan ekonomi Tiongkok di Teluk dan keterlibatan Rusia di Ukraina membuat mereka tidak ingin terjun ke dalam tungku api yang bisa membakar diri mereka sendiri.
Runtuhnya daya tangkal atau deterensi Iran tersebut menjadi titik balik krusial. Deterensi, menurut teori pertahanan, sangat bergantung pada kapabilitas dan kredibilitas. Iran mungkin memiliki kapabilitas berupa ribuan rudal balistik, tetapi kredibilitasnya untuk membalas secara efektif mulai diragukan oleh lawan.
Ketika Amerika Serikat dan Israel meluncurkan Operasi Epic Fury dan Roaring Lion, mereka telah mengalkulasi bahwa risiko pembalasan dari Iran berada dalam batas yang dapat diterima.
Namun, Iran bukanlah lawan yang mudah menyerah. Mereka memilih strategi perang atrisi atau perang berlarut yang bertujuan menguras ekonomi lawan.
Dengan menggunakan drone murah tetapi mematikan, Iran memaksa Israel dan AS mengeluarkan biaya pertahanan yang sangat mahal. Misalnya, penggunaan rudal Patriot yang harganya ribuan kali lipat daripada drone yang dicegatnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: