Trump vs Paus
ILUSTRASI Trump vs Paus.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
WASP juga memainkan peran politik yang sangat dominan. Kelompok gereja Protestan Evangelis menjadi pressure group yang kuat dan sangat efektif dalam menentukan arah politik di AS. Para pemimpin gereja Evangelis itu dikenal sebagai pendukung militan Partai Republik yang manaungi Trump.
Dalam Pemilihan Presiden 2024, Trump mendapat dukungan kuat dari kalangan kulit putih Kristen. Dari 41 persen pemilih kulit putih, sebanyak 72 persen memilih Trump.
Alasan memilih Trump adalah janji politik Trump melalui program MAGA (Make Amerika Great Again), yang secara implisit ingin mengembalikan supremasi kulit putih dalam kehidupan politik di AS.
Dominasi dan supremasi kulit putih diyakini merosot karena kedatangan imigran dari berbagai belahan dunia. Sebagai negara yang dibangun imigran, AS menganut prinsip multikulturalisme. Namun, sekalangan orang kulit putih konservatif tidak menyukai hal itu dan tetap menginginkan dominasi kulit putih.
Bahkan, ahli politik hebat seperti Prof Samuel P. Huntington pun risau akan kaburnya identitas kulit putih yang menjadi inti budaya AS. Ia mempertanyakan dalam bukunya, Who Are We: The Challenge to America’s Identity (2004). Ia menolak gagasan AS sebagai negara imigran dan menegaskan bahwa identitas utama AS ada pada budaya WASP.
Kendati mayoritas penduduknya beridentitas WASP, para founding father AS menegaskan dan jelas menjadikan sekularisme sebagai fondasi negara. Secara tegas dipisahkan antara agama dan negara. Salah satunya adalah melarang sekolah negeri memberikan pelajaran agama.
Namun, Donald Trump melanggar prinsip itu. Ia memakai simbolisme agama untuk mendapatkan legitimasi terhadap kebijakannya. Perang melawan Iran dicarikan justifikasi agama. Ia mengumpulkan para pemimpin geraja ke Gedung Putih untuk melakukan doa bersama.
Ia mengunggah foto hasil rekayasa AI, yang menggambarkan dirinya seperti Jesus yang mengobati orang sakit dengan menyentuh kening si sakit. Unggahan itu dihapus setelah muncul kecaman dari Paus Leo.
Menteri Perang Pete Hegseth setali tiga uang. Ia mengadakan kebaktian di Departemen Pertahanan Pentagon dan menyerukan penghancuran ekstrem terhadap musuh AS.
Hegseth dikecam luas karena dianggap sebagai orang yang –bersama Trump– haus perang. Legitimasi agama yang dipakai untuk menjustifikasi perang dikecam luas, termasuk oleh Paus Leo XIV.
Trump yang berangasan menantang balik Paus Leo. Sebaliknya, Paus Leo tidak takut menghadapi Trump. Secara terbuka, Paus mengatakan akan tetap menyerukan perdamaian dan mengkritik siapa pun yang menggunakan kekerasan untuk memaksakan kehendak.
Perang terbuka itu akan membawa konsekuensi politik serius bagi Trump. Dalam Pilpres 2024 lalu, 55 persen pemilih Katolik memilih Trump. Dukungan umat Katolik itu sangat mungkin akan turun pada pemilu sela November mendatang.
Hal itu akan menjadi keuntungan bagi Partai Demokrat. Berbagai survei menunjukkan bahwa Demokrat sekarang mengungguli Partai Republik. Pemilu sela akan menjadi ”moment of truth” bagi Trump. Partainya bisa kalah dan ia berada dalam bahaya ancaman pemakzulan. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: