Trump vs Paus

Trump vs Paus

ILUSTRASI Trump vs Paus.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

SERIBU kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak. Adagium itu sering diucapkan politikus di berbagai kesempatan. Presiden Prabowo Subianto juga kerap memakai ungkapan itu di berbagai kesempatan.

Tapi, ungkapan tersebut, tampaknya, tidak berlaku bagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Alih-alih satu lawan terlalu banyak, bagi Trump, seribu lawan terlalu sedikit dan satu kawan terlalu banyak. 

Bagi Trump, cukup satu kawan saja, yaitu Benjamin Netanyahu. Selebihnya, ia tidak butuh. Bagi Trump, seribu lawan terlalu sedikit. Karena itu, ia mencari lawan sebanyak-banyaknya.

Ia memecat jenderal-jenderal dan menteri-menterinya sendiri. Ia mencari musuh sebanyak-banyaknya. Di dalam negeri dan di luar negeri. Ia memusuhi Venezuela. Dan, sekarang memusuhi Iran

BACA JUGA:Trump Hujat Paus Leo XIV, Sebut Pemimpin Tertinggi Katolik itu Lemah Terhadap Kejahatan

BACA JUGA:Teruskan Pesan Paus Leo XIV dalam Misa Minggu Palma, Uskup Surabaya: Perdamaian Tidak Merusak

Negara-negara Eropa yang menjadi teman koalisi dimusuhinya. Lembaga-lembaga internasional seperti PBB dan NATO tidak luput dari sasaran permusuhan Trump.

Ia menyerbu Iran tanpa bilang ke teman-temannya karena ia memang tidak punya dan tidak butuh teman. Ia memusuhi teman-temannya yang tidak mau ikut perang bersamanya. 

Karena merasa masih kurang lawan, Trump kemudian memusuhi Paus Leo XIV, pemimpin umat Katolik seluruh dunia. Dalam sejarah dunia modern, baru kali ini ada presiden yang secara terbuka dan terang-terangan memusuhi paus.

Awal mula perseteruan terjadi ketika Paus Leo XIV mengecam serbuan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Paus juga mengecam keras penculikan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. 

Alih-alih melunak, Trump malah menyerang balik paus. Secara terbuka, ia mengatakan tidak menyukai paus. Ia menyebut paus sebagai pemimpin yang buruk dan lemah sehingga ia tidak membutuhkannya.

Paus Leo ialah paus pertama yang berasal dari Amerika Serikat. Nama aslinya Robert Francis Prevost dari Chicago. Memusuhi paus asli Amerika Serikat bisa memantik permusuhan dengan penganut Katolik di Amerika Serikat.

Di Amerika Serikat, umat Katolik bisa disebut minoritas karena jumlahnya hanya 21 persen. Jumlah itu tidak ada separuh dari penganut Protestan yang mencapai 45 persen.

Protestanisme menjadi identitas utama bangsa Amerika Serikat (AS) yang mayoritas merupakan imigran dari Inggris pada abad ke-17. Imigran Inggris berkulit putih dan beragama Protestan itu kemudian menjadi mayoritas dan menjadi identitas keamerikaan dominan yang disebut sebagai WASP (White Anglo Saxon Protestant).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: