Rektor Masjid
PROF NASIH (kanan) menerima sertifikat Masjid Nuruzzaman dari Ketua DMI Surabaya Arif Afandi. -Sugeng Deas untuk Harian Disway-
Benar saja. Pelantikan pengurus DMI Surabaya yang baru di masjid kampus itu membawa nuansa beda. Apalagi, dihadiri para tokoh nasional dan regional. Ada KH A. Said Asrori dan Prof Dr KH M. Nuh yang sama-sama pengurus PBNU. Juga, Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jatim Prof Dr Thohir Luth.
Ketua PW DMI Jatim Dr H Sujak melantiknya. Disaksikan Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Arif Fathoni dan anggota DPRD Imam Syafii. Hadir juga perwakilan wali kota Surabaya. Ribuan jamaah hadir. Sebagian besar para takmir dan imam masjid se-Surabaya.
Yang istimewa, pelantikan DMI kali ini mengusung tema Guyub Bareng Baik Bareng. Pelaksanaannya menggandeng Better Youth, komunitas anak muda muslim yang sehari sebelumnya sukses menggelar acara bersama Ustad Abdul Somad di Masjid Al Akbar.
Mengapa Guyub Bareng Baik Bareng? Guyub itu menyatukan. Menghapus sekat. Membuat masjid menjadi ruang temu. Lintas ormas, lintas generasi, lintas pendidikan, lintas latar belakang. Mereka bersatu di masjid.
Baik itu menggerakkan. Mengubah kebaikan dari sekadar niat pribadi menjadi gerakan kolektif. Guyub tanpa aksi, ya berhenti di kumpul-kumpul.
Kalau hanya baik tapi sendiri-sendiri, dampaknya kecil. Maka, harus bareng.
Masjid, dalam konteks ini, menjadi simpulnya. Di tengah tantangan umat yang makin kompleks, fragmentasi, polarisasi, bahkan jarak sosial. Masjid harus kembali menjadi tempat orang saling mengenal, saling peduli, dan saling menguatkan.
Takmir tidak cukup hanya mengelola fasilitas. Harus menjadi penggerak kohesi sosial. Harus berani membuka ruang: forum jamaah lintas komunitas, kegiatan sosial bersama, melibatkan anak muda dan perempuan.
Lalu, bagaimana dengan ”baik bareng”? Itulah yang sering dilupakan. Masjid tidak akan benar-benar hidup kalau jamaahnya lemah secara ekonomi. Karena itu, ke depan masjid harus bergerak dari konsumtif menjadi produktif.
Mulai koperasi jamaah, penguatan UMKM, pelatihan kewirausahaan, sampai ekosistem ekonomi berbasis masjid. Tidak boleh ada jamaah yang tertinggal. Masjid harus hadir sebagai solusi. Tidak hanya dimakmurkan. Tapi juga memakmurkan.
Lebih jauh lagi, masjid juga harus menjadi bagian dari pembangunan kota. Surabaya butuh partisipasi warga yang kuat. Dan, masjid adalah simpul sosial paling nyata di tingkat komunitas.
Dari masjid, edukasi bisa dilakukan. Program sosial bisa dijalankan. Gerakan kemanusiaan bisa digerakkan. Monitoring warga rentan bisa dilakukan. Apalagi untuk jamaahnya yang rajin salat jamaah.
Di sinilah DMI mengambil peran. Sebagai orkestrator. Menghubungkan masjid, jamaah, dan berbagai stakeholder. Mendorong tata kelola yang profesional. Menguatkan transparansi. Bahkan masuk ke digitalisasi.
Masjid –juga tempat ibadah agama lain– seharusnya tidak hanya menjadi tempat ibadah. Ia harus menjadi pusat peradaban. Yang terus membangun karakter umatnya dalam setiap perkembangan zaman.
Untuk itu, masjid harus menjadi ruang temu yang terbuka. Bagi setiap aliran dan kelompok masyarakat. Menjadi ruang belajar. Bukan hanya tentang agama. Melainkan juga segala segi kehidupan. Itu spirit utama DMI Surabaya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: