Menebus “Dosa” Industri: Dari Asap Pabrik Menjadi Jaminan Masa Depan Anak Cucu Bromo

Menebus “Dosa” Industri: Dari Asap Pabrik Menjadi Jaminan Masa Depan Anak Cucu Bromo

Prof. Dr. H. Muhammad Adib, MA (moderator: Koordinator Laboratorium Manusia Budaya dan Ragawi (Lab. MaBuRag) FISIP Unair (tengah), KH. Mahrus Solikin (Narasumber: Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Rukun Maju Sejahtera, bertopi Laken), dan Guntur Bisowarno, -Dokumen Pribadi-


Prof. Dr. H. Muhammad Adib, Drs., MA., Antropolog Ekologi, Koordinator Laboratorium Manusia, Budaya, dan Ragawi (Lab. MaBuRag) FISIP Universitas Airlangga Surabaya.--

Ruang Adi Sukadana di lantai dua Gedung A FISIP Universitas Airlangga (UNAIR) mendadak senyap pada Senin pagi, 25 Mei 2026. Di depan puluhan pasang mata mahasiswa, dari kelas regular nasional dan internasionl Amerta (Angkatan Muda Ksatria Airlangga) berdiri seorang lelaki bersahaja dengan gurat wajah legam khas tani pegunungan. Namanya H. Mahrus Solikin. 

Narasumber ini, bukan profesor lulusan luar negeri, melainkan seorang anak desa yang masa kecilnya bahkan tidak menamatkan sekolah dasar. Namun, rekam jejaknya membuat merinding: penerima penghargaan Kalpataru dari Istana Negara (2009), koordinator Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM) Jawa Timur, hingga sosok yang dihormati dalam jaringan konservasi internasional bersama para pakar dari Jepang dan Australia. 

"Mengubah udara yang kita hirup itu lho menjadi dolar, lalu diubah lagi menjadi beasiswa," ujar Kyai Mahrus dengan intonasi yang mantap namun penuh ketulusan. 

Kalimat itu bukan bualan utopis. Di bawah payung Kelompok Tani Hutan (KTH) Rukun Maju Sejahtera di Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan, rekayasa ekosistem bukan lagi sekadar jargon menara gila akademik, melainkan sebuah sirkularitas hidup yang nyata. 

BACA JUGA:Bupati Pasuruan Sambut Gembira Pitstop Bromo Kom Pindah di Kabupaten Pasuruan

BACA JUGA:Wali Kota Pasuruan Dukung Penuh Bromo Kom 2026, Sebut Jadi Event Sepeda Bergengsi

Mereka berhasil membalikkan logika kapitalisme global. Asap-asap kotor yang dilepeh oleh cerobong industri raksasa di Indonesaia negara maju, disedot secara alami oleh daun-daun hijau (klorofil) rimbun di lereng Bromo melalui proses fotosintesis. 

Emisi karbon dioksida (CO2) itu diikat menjadi biomassa kayu. Di atas kertas, industri global membayar kompensasi atas "dosa polusinya" melalui skema kredit karbon (carbon credit). Di lapangan, uang dari langit global itu mendarat di bumi perdesaan, mewujud sebagai pembiayaan pendidikan bagi lebih dari 100 santri dan anak-anak petani hutan, dengan target ambisius mencapai 300 anak ke perguruan tinggi. Inilah ejawantah asli dari tema besar: Memanen Karbon, Menuai Sarjana: Rekayasa Ekosistem dalam Mewujudkan Ekonomi Sirkular dan Inovasi Sosial. Tema yang diusung pada Kuliah Tamu tersebut.

Iqra, Membaca

Prinsip pergerakannya sederhana namun teologis. Kyai Mahrus menceritakan bahwa seluruh aksi nyata penanaman pohon yang ia rintis sejak tahun 1982 berakar dari satu komando spiritual: Iqra. Membaca. 

Namun bukan sekadar membaca teks, melainkan membaca tanda-tanda kerusakan alam dan membaca peluang ekonomi masyarakat sekitar hutan. "Langkah pertama adalah membaca, lalu menulis, kemudian bertindak dengan menanam," tegasnya. 

Keberhasilan di Puspo ini dikawal ketat oleh program PUSPA (Pusat Unggulan Sumber Daya Alam) yang dipaparkan oleh Pak Guntur Bisowarno selaku Ketua Satgas Mata Air Nusantara. 


Foto bersama narasumber (tengah berpeci, di bawah logo Unair), moderator, dan peserta setelah acara Pembukaan Kuliah Tamu pada Matakuliah Antropologi Ekologi di Ruang Adi Sukadana FISIP Unair, 25 Mei 2026.-Dokumen Pribadi-

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: