Dari Hutan Menuju Harapan: Transformasi Mindset Korporasi dalam Mengelola Ekosistem Bromo
“Salam Lesari.” Foto besama setelah pembukaan oleh Kepala Departemen Antropologi FISIP Unair (Dr. Sri Endah Kinasih, S.Sos., M.Si, berdiri di tengah bekerudung warna hijau), Narasumber, moderator, pada Kuliah Tamu, Mata Kuliah Budaya Korporat di Ruang Adi-Dokumen Pribadi-
HARIAN DISWAY - Departemen Antropologi dan Laboratorium Manusia, Budaya, dan Ragawi (Lab. MaBuRag) FISIP Universitas Airlangga (Unair) kembali lagi menggelar kuliah tamu yang inspiratif dan inovatif. Kuliah tamu bertajuk “Budaya Inovasi Sosial: Transformasi Mindset Korporasi dalam Mengelola Ekosistem Bromo sebagai Aset Bersama (Common Resource).” ini berlangsung pukul 15.00 - 18.00 WIB dengan menghadirkan Ir. Suratno, S.Hut., M.M., IPU., selaku Wakil Kepala Perhutani Divisi Regional Jawa Timur sebagai Narasumber Utama dan dipandu oleh Prof. Dr. H. Mohammad Adib, Drs., M.A., selaku Moderator dan Koordinator Lab. MaBuRag FISIP UNAIR, serta dihadiri oleh Kepala Departemen Antropologi FISIP UNAIR, Dr. Sri Endah Kinasih, S.Sos., M.Si.
Prof. Adib selaku moderator, menyebutkan memiliki cita-cita besar dari penelitian ini sebagai upaya “transformasi ekosistem mata air dan karbon menjadi dana abadi beasiswa desa,” sebuah gagasan yang menempatkan alam sebagai modal sosial yang dapat memberdayakan pendidikan di pedesaan.
Kuliah tamu yang diselenggarakan pada Selasa 26, Mei 2026, di Ruang Adi Sukadana FISIP Unair ini menyoroti transformasi budaya korporasi dalam pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan, khususnya pada ekosistem Bromo sebagai aset bersama. Melalui budaya inovasi sosial, penting bagi Perhutani dan masyarakat untuk melihat hutan tidak sekedar dari nilai ekonominya, namun juga dilihat sebagai aset bersama (common resource) yang juga memiliki nilai sosial, budaya, dan ekologis bagi masyarakat.
“Pengelolaan hutan tidak hanya berfokus pada keuntungan ekonomi semata, namun juga perlu mengedepankan kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan. Hutan tidak hanya dilihat dan dimanfaatkan sebagai penghasil kayu, namun lebih daripada itu hutan juga membantu menjaga ketahanan pangan, menyediakan sumber mata air bersih, mengurangi dampak perubahan iklim dengan menyerap karbon yang ditimbulkan oleh industri, serta mendukung ketahanan energi nasional,” ujar Ir. Suratno, Selasa 26 Mei 2026.
Dalam pemaparannya, Ir. Suratno menjelaskan bahwa Perhutani merupakan satu-satunya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang kehutanan di Indonesia.” Sebagai entitas korporasi negara, Perhutani tidak hanya berperan dan bertanggung jawab atas kelestarian ekologis, namun juga dituntut mandiri secara finansial sekaligus mensejahterakan masyarakat sekitar hutan,” tegasnya.
“Visi Perhutani adalah menjadi perusahaan pengelola hutan berkelanjutan yang bermanfaat bagi masyarakat dengan menyeimbangkan tiga aspek utama, yaitu people (masyarakat), planet (kelestarian lingkungan), dan profit (keberlanjutan bisnis). Ketiga aspek ini, merupakan sesuatu yang “mutually exclusive”,” lanjut Narsum yang Alumni Kehutanan IPB Universty mengutip pikiran oleh Prof. Hasanu Simon dari UGM.
“Peningkatan fungsi hutan tertentu akan cenderung menekan fungsi yang lain. Artinya, menyeimbangkan kepentingan ekologi, sosial, dan ekonomi dalam satu kawasan hutan bukan perkara mudah dan memerlukan pendekatan yang sangat terukur,” imbuhnya.
“Ketahanan dan kedaulatan pangan merupakan pilar utama bagi ketahanan dan kekuatan nasional sebuah negara. Tanpa kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya sendiri, sebuah negara tidak akan bisa menjadi benar-benar merdeka dan mandiri,” imbuhnya. Suratno juga menjelaskan bahwa kawasan konservasi seperti Bromo, Tengger, dan Semeru dapat menjaga keseimbangan ekosistem di Jawa Timur. Oleh karena itu, pengelolaan kawasan hutan perlu dilakukan secara berkelanjutan agar manfaat ekologis dan sosialnya tetap dapat dirasakan untuk menjadi harapan masa depan bagi generasi mendatang.

Prof. Dr. H. Mohammad Adib, Drs., M.A., (tengah, moderator, Koordinator Lab. Maburag FISIP Unair) dan Ir. Suratno, S.Hut., M.M., IPU, (sebelah kanan, narasumber, Berseragam warna coklat, Wakil Kepala Perhuhani Divisi Regional Jawa Timur ), di Ruang Adi Su-Dokumen Pribadi-
Di Jawa Timur, Perhutani mengelola kawasan hutan seluas lebih dari 1 juta hektare yang mencakup fungsi lindung dan fungsi produksi. Namun, berdasarkan Surat Keputusan terbaru tahun 2025, sebagian lahan tersebut dikembalikan kepada negara dalam kerangka kebijakan KHDPK (Kawasan Hutan Dengan Pengelolaan Khusus), sehingga luas yang dikelola Perhutani menjadi sekitar 608 ribu hektare. Hal ini berimplikasi langsung pada kemampuan operasional perusahaan dalam menjalankan misinya.
Salah satu poin yang menarik dalam pemaparan narasumber adalah realitas tekanan yang semakin besar terhadap kawasan hutan seiring meningkatnya jumlah penduduk Indonesia. Ir. Suratno memaparkan bahwa penduduk Indonesia pada akhir 2025 telah mencapai angka 286 juta jiwa, melampaui proyeksi awal. Pulau Jawa sendiri menjadi rumah bagi sekitar 57-58 persen dari total penduduk Indonesia, sementara luas hutannya terus berkurang. Kondisi ini menciptakan tekanan ekologis yang sangat signifikan.
Mengacu pada data ini, narasumber menyebut lima tantangan utama yang kini dihadapi kawasan hutan, yakni ketahanan pangan, sesuai amanat UU No. 18 Tahun 2012; pemenuhan kebutuhan energi terbarukan; ketersediaan air bersih; udara bersih; dan ketahanan iklim dari perubahan musim yang tidak terprediksi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: