Pembentukan Satgas Tanggap Bencana Unair
ILUSTRASI Pembentukan Satgas Tanggap Bencana Unair.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
HALL Lantai I Gedung Rektorat Universitas Airlangga, Senin, 20 Juli 2026, ramai didatangi pejabat, baik wakil rektor, sekretaris univeritas, para dekan, maupun ketua lembaga. Pagi itu acara yang digelar adalah pelepasan Tim Ekspedisi Patriot dan pelantikan pengurus Garda Ksatria atau tim satuan tugas tanggap bencana Universitas Airlangga.
Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga adalah kelompok yang dibentuk Kementerian Transmigrasi bersama Uiversitas Airlangga. Tim itu terdiri atas mahasiswa, alumni, dan dosen yang ditugaskan ke kawasan transmigrasi untuk melakukan riset, pemetaan masalah, dan pendampingan masyarakat guna membangun daerah tersebut.
Tim yang lolos seleksi dan kemudian diberangkatkan hari itu tidak hanya bertugas mempelajari potensi sumber daya dan kendala di daerah transmigrasi secara langsung. Tetapi, mereka juga akan membantu warga setempat mengembangkan keterampilan dan ekonomi daerah.
Sementara itu, tim satuan tugas tanggap bencana Universitas Airlangga memiliki peran yang krusial untuk memberikan respons cepat terhadap berbagai bencana yang terjadi di tanah air, khususnya untuk mempercepat proses penyelamatan jiwa dan penyaluran bantuan.
BACA JUGA:Antropologi FISIP Unair Perkuat Kolaborasi dengan Pemdes Ngadirejo dalam Hilirisasi Ekonomi Hijau
Satgas itu dibentuk di Universitas Airlangga sebagai komitmen kampus untuk ikut berperan dalam upaya penanggulangan bencana yang datangnya tiba-tiba di berbagai daerah di tanah air.
Implementasi Kampus Berdampak
Pelantikan pengurus Ksatria Airlangga yang tergabung dalam satgas tanggap bencana dilakukan langsung oleh Rektor Universitas Airlangga Prof Dr Muhammad Madyan. Dalam sambutannya, Prof Madyan menegaskan bahwa pembentukan Satgas tanggap bencana di lingkungan Universitas Airlangga adalah konsekuensi dan sekaligus menerjemahkan konsep Kampus Berdampak.
Kampus Berdampak yang dicanangkan Kemendiktisainstek bukan sekadar slogan akademik, melainkan sebuah komitmen moral dan intelektual. Kampus dapat berdampak ketika tridarma perguruan tinggi, baik itu pendidikan, penelitian, maupun pengabdian masyarakat, tidak hanya berhenti pada publikasi jurnal atau ruang kelas.
Lebih dari itu, ilmu pengetahuan harus ditransformasikan menjadi solusi nyata atas penderitaan masyarakat, khususnya dalam konteks kebencanaan di wilayah Nusantara yang rentan terhadap anomali iklim dan geologis.
Kita sadari bahwa Indonesia, dengan letak geografisnya yang berada di kawasan ring of fire (cincin api pasifik), merupakan wilayah yang sangat rawan terhadap berbagai potensi bencana alam. Bencana yang mengancam masyarakat tidak hanya gempa bumi, letusan gunung berapi, banjir bandang, dan tanah longsor, tetapi juga bencana sosial-ekonomi yang lain.
Menghadapi kenyataan itu, kesiapsiagaan bukanlah sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan mutlak. Di sinilah urgensi pembentukan satgas tanggap bencana Universitas Airlangga menjadi sangat penting.
Tantangan penanggulangan bencana tidak berhenti saat air banjir bandang telah surut atau guncangan gempa telah reda. Tahap pascabencana atau pemulihan (recovery) justru sering kali menjadi fase yang paling berat dan memakan waktu lama. Pada fase itu, korban bencana membutuhkan rehabilitasi psikologis, perbaikan infrastruktur dasar, dan pemulihan ekonomi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: