Pembentukan Satgas Tanggap Bencana Unair

Pembentukan Satgas Tanggap Bencana Unair

ILUSTRASI Pembentukan Satgas Tanggap Bencana Unair.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Kehadiran satgas tanggap bencana memainkan peran strategis dalam mengawal proses rehabilitasi dan rekonstruksi tersebut agar berjalan cepat dan tepat sasaran. Mereka membantu mengoordinasikan pembersihan puing-puing, mendampingi penyaluran bantuan modal usaha, dan memastikan trauma healing berjalan optimal. 

Tanpa adanya tim khusus, proses pemulihan ekonomi dan sosial masyarakat dapat berlangsung lambat, yang pada akhirnya akan menghambat proses kebangkitan dan pemulihan kondisi korban bencana.

Belajar dari pengalaman terjadinya bencana di berbagai daerah selama ini, kita memahami bahwa bencana adalah fenomena multidimensi yang membutuhkan penanganan holistik. Ketika sebuah wilayah dilanda bencana, masalah yang timbul tidak hanya sebatas kerusakan fisik bangunan. 

Ada trauma psikologis, krisis air bersih, ancaman wabah penyakit, hingga lumpuhnya sektor ekonomi lokal. Dalam konteks itulah, satgas tanggap bencana Universitas Airlangga akan memperlihatkan perannya. Satgas tanggap bencana itu dirancang sebagai wadah konvergensi lintas disiplin ilmu.

Ketua satgas tanggap bencana Universitas Airlangga adalah Dr Bambang Pujo Semedi dari fakultas kedokteran didampingi sekretaris Dr Sri Widati. Ada tiga unit yang kepengurusannya disahkan rektor. Yakni, unit mitigasi, unit tanggap darurat, dan unit rehabilitasi.

Satuan tugas tanggap bencana tersebut diisi ahli kesehatan masyarakat, dokter, sosiolog, psikolog, ahli ekonomi, hingga pakar manajemen bencana. 

Mereka bersinergi di bawah satu payung kemanusiaan. Keberadaan program seperti magister manajemen bencana (MMB) sekolah pascasarjana serta unit kemahasiswaan seperti Mahagana (Mahasiswa Tanggap Bencana) menjadi penyokong utama satuan tugas itu. 

Dalam penanganan bencana, satgas tersebut akan berangkat dengan metodologi yang terstruktur dan berbasis riset. Mereka tidak datang dengan tangan kosong dan niat baik semata, melainkan dengan asesmen kebutuhan yang presisi dan pemetaan wilayah terdampak yang komprehensif.

Kepekaan Sosial

Pembentukan dan kiprah Satgas Tanggap Bencana Universitas Airlangga sesungguhnya adalah manifestasi dari paradigma academic social responsibility (tanggung jawab sosial akademik). 

Sebagai kampus dengan peringkat ke-276 dunia, Universitas Airlangga menyadari bahwa keunggulan akademis (excellence with morality) tidak hanya ditunjukkan dari kualitas lulusan yang tinggi, tetapi harus pula diiringi dengan kepekaan sosial dan kepedulian kemanusiaan yang tinggi.

Dalam konteks Kampus Berdampak, satgas tanggap bencana itu menjadi jembatan antara teori di bangku kuliah dan realitas di medan bencana. Setiap ilmu yang diajarkan, setiap penelitian yang dilakukan, dan setiap inovasi yang diciptakan para akademisi diuji relevansinya di garis depan kemanusiaan. 

Pengalaman langsung di lapangan itu juga memberikan umpan balik yang berharga bagi pengembangan riset manajemen bencana, mitigasi risiko, dan kebijakan kesehatan di masa depan.

Kita tidak berharap masyarakat Indonesia selalu akan dihantui terjadinya berbagai bentuk bencana. Namun, secara realistis, kita menyadari bahwa bencana ibarat mimpi buruk. Datangnya bencana selalu tiba-tiba, tak terduga, dan menimbulkan dampak yang merugikan masyarakat. 

Dengan membentuk satgas tanggap bencana, Universitas Airlangga berkomitmen untuk ambil bagian serta memberikan secercah harapan dan optimisme. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: