Circular Economy: Dari Cascara Menuju Desa Sejahtera
Ilustrasi Desa --
DALAM paradigma Kampus Berdampak, perguruan tinggi dituntut hadir lebih dekat dengan persoalan nyata, bekerja bersama masyarakat, dan menghadirkan solusi yang relevan bagi perubahan sosial dan ekonomi. Kemendiktisaintek menempatkan pendidikan tinggi bukan hanya sebagai penyedia ilmu pengetahuan, melainkan juga sebagai penggerak perubahan sosial dan ekonomi bangsa.
Kegiatan perguruan tinggi dinilai penting ketika mampu menghasilkan perubahan yang bermakna, dapat dikenali, dan memberikan manfaat bagi masyarakat dari waktu ke waktu. Kini dampak sosial (societal impact) menjadi frasa penting dari ukuran kualitas pendidikan tinggi.
Semangat itulah yang tecermin dalam kegiatan pengabdian masyarakat dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga bersama mahasiswa di Desa Kandangan, sebuah desa yang berada di Kecamatan Senduro, Lumajang.
Desa itu memiliki potensi besar dalam sektor pertanian, khususnya komoditas kopi robusta. Namun, potensi tersebut belum optimal karena berbagai permasalahan yang saling terkait. Pada aspek produksi, sebagian besar petani dan pelaku usaha hanya menjual biji kopi mentah tanpa proses hilirisasi sehingga nilai tambah rendah dan pendapatan tetap stagnan.
BACA JUGA:Gandeng Konjen Australia, UK Petra Bantu Petani Sulap Limbah Kopi Jadi Arang dan Sirup Cascara
BACA JUGA:Wow, Petani di KEdiri Kini Pakai Drone Berkat Program Desa Sejahtera SnackVideo
Kapasitas produksi terbatas, kualitas belum terstandarisasi, dan teknologi pascapanen belum digunakan secara maksimal.
Selama tiga tahun berjalan, kampus hadir di tengah-tengah masyarakat melalui serangkaian program yang berkelanjutan untuk menghadirkan solusi nyata. Jika pada tahun pertama berhasil mengokohkan aspek kelembagaan ekonomi desa melalui penguatan BUMDes, program dilanjutkan dengan melakukan peningkatan nilai jual kopi robusta melalui inovasi mesin roasting dan pelatihan.
Hasilnya signifikan, harga jual kopi meningkat dari Rp28.000/kg menjadi Rp75.000/kg. Baru pada tahun ketiga, program berfokus pada peningkatan nilai tambah produk melalui pemanfaatan limbah, mengubah kulit kopi (cascara) menjadi teh cascara.
Limbah Menjadi Nilai Tambah
Bagi Desa Kandangan, kopi bukan sekadar komoditas pertanian. Kopi adalah bagian dari kehidupan warga, sumber penghidupan, sekaligus identitas lokal yang tumbuh bersama masyarakatnya.
Hanya, sebagaimana terjadi di banyak desa penghasil kopi lainnya, nilai ekonomi kopi selama ini lebih banyak berhenti pada pemanfaatan bijinya. Setelah proses panen dan pengolahan dilakukan, kulit buah kopi kerap tersisih sebagai limbah pascapanen yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Padahal, di balik kulit kopi yang sering dianggap tidak bernilai, tersimpan peluang ekonomi baru. Kulit buah kopi atau coffee cherry skin dapat diolah menjadi cascara, yaitu minuman herbal berbahan dasar kulit kopi kering yang memiliki cita rasa khas. Meski masih perlu pengujian, cascara memiliki fungsi yang tidak bisa diremehkan.
Dosen bersama mahasiswa turun langsung untuk memahami kebutuhan masyarakat, memetakan potensi usaha desa, serta mendampingi BUMDes agar mampu mengembangkan rantai nilai kopi secara lebih luas. Kopi tidak lagi hanya dilihat sebagai biji yang dijual, tetapi sebagai ekosistem produk yang dapat dikembangkan dari hulu hingga hilir.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: