Kartini Survivor: Kirana Bangkit dari Trauma Kekerasan Seksual

Kartini Survivor: Kirana Bangkit dari Trauma Kekerasan Seksual

Kartini Survivor: Kirana bangkit dari trauma kekerasan seksual. Foto ilustrasi diperagakan oleh model.-Boy Slamet-Harian Disway

Tetapi, aktivitas seksual yang tidak sesuai umur membawa efek mengerikan bagi Kirana. Seperti narkoba, dia kecanduan. Jika melihat lawan jenis, dia bisa membayangkan adegan-adegan seksual.

Sedikit sentuhan dari pria pun dapat merangsangnya. "Efeknya seperti lingkaran setan," ungkap Kirana dengan ekspresi datar.

Kirana tahu betul bahwa fantasinya tidak tepat. Dia belajar untuk menghentikan kecanduan itu. "Sulit sekali rasanya, kayak sakau. Bahkan sampai sekarangpun saya masih berjuang," dia mengaku.

BACA JUGA:Soul Empower: Kartini Edition, Gelang Manik-Manik Jadi Ajang Self-Healing dan Asah Kreativitas

BACA JUGA:Inspirasi Kebaya Kekinian dan Daftar Kegiatan Hari Kartini, 21 April 2026

Kirana sadar betul efek kecanduan itu mengganggu kesehariannya. Dia menyiasatinya dengan mulai menjaga jarak dan pandangan dengan lawan jenis. "Pokoknya jangan sampai berdekatan dengan cowok," imbuhnya.

Kirana adalah salah seorang dari puluhan ribu penyintas kekerasan seksual di Indonesia. Jumlahnya tiap tahun meningkat. Berdasarkan data catatan tahunan Komnas Perempuan, ada 20.958 kasus kekerasan seksual yang terjadi pada 2024.

Tahun berikutnya, angkanya naik jadi 24.472 kasus. Seringkali pelakunya adalah orang terdekat. Misalnya, suami, pacar, paman, atau tetangga. Mirip sekali dengan cerita Kirana.

Direktur Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) Universitas Airlangga, Prof. Dra. Myrta Dyah Artaria, M.A, Ph.D prihatin dengan maraknya fenomena kekerasan seksual.

BACA JUGA:Beauty of Balai Pemuda, Bangkitkan Semangat Kartini dari Galeri Merah Putih Surabaya

BACA JUGA:Cahaya Kartini, Pertamina Hadirkan Tiga Perempuan Inspiratif

Sebab peristiwa itu selalu dimulai dari lingkungan terdekat korban. Karena sesuatu yang terjadi di masa kecil, efeknya bisa menjadi sangat besar.

"Saya mengamati dan membaca pola, dari kasus-kasus yang masuk ke kami, dan dari kasus-kasus yang masuk ke satgas di universitas lain yang sempat kami diskusikan di grup ketua satgas," kata Prof. Myrta.

Perempuan yang sudah berkecimpung di dunia advokasi perempuan sejak 2007 itu mengungkap salah satu kasus yang pernah ditangani.

Ada anak yang orang tuanya bercerai, lalu ditinggalkan dengan pengasuh. Tapi dia malah dilecehkan oleh pengasuhnya. Akhirnya dia kecanduan hubungan seks yang berbau kekerasan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: