Kecemasan Kolektif dan Bangsa yang Lelah

Kecemasan Kolektif dan Bangsa yang Lelah

ILUSTRASI Kecemasan Kolektif dan Bangsa yang Lelah.-Arya/AI-Harian Disway -

Kedua, komunikasi publik perlu jujur, bukan manis. Rakyat Indonesia tidak rapuh. Yang membuat mereka lelah bukan kabar buruk, melainkan kabar buruk yang dibungkus dengan kalimat ”semua baik-baik saja”. Di titik itu, bangsa kita lebih membutuhkan pemimpin yang berkata terus terang daripada juru bicara yang tersenyum.

Ketiga, kita butuh ruang bersama untuk berduka, istilah yang terdengar aneh dalam politik, tetapi masuk akal dalam psikologi. Bangsa-bangsa yang pulih dari krisis biasanya adalah bangsa yang mengakui ada yang patah. 

Afrika Selatan punya Komisi Kebenaran. Jepang punya ritual kolektif pascabencana. Kita? Kita punya kecenderungan melompat ke slogan berikutnya sebelum luka yang lama sempat dijahit. 

Keempat, yang paling sederhana: jaga satu sama lain. Di banyak kampung, pola warga jaga warga tumbuh bukan karena program pemerintah, melainkan karena warga sudah tahu mereka tidak bisa menunggu terlalu lama. 

Sopir truk di awal tulisan ini akhirnya tetap bisa membayar kontrakan bulan lalu bukan karena bansos, melainkan karena tetangganya diam-diam menitipkan amplop. Itulah republik yang sebenarnya: yang berjalan di bawah radar, yang tidak pernah masuk pidato kenegaraan, tetapi yang menjaga agar negeri ini tidak patah dua.

Saya sering memikirkan kalimat pendek sopir tadi. ”Saya cuma capek.” Ada integritas di dalam kelelahan itu, ada kejujuran yang tidak kita dengar dari mimbar mana pun. Kelelahan, barangkali, adalah bentuk paling murni dari cinta yang terlalu sering dikhianati. 

Bangsa yang lelah bukan bangsa yang kalah. Ia hanya sedang menunggu alasan yang cukup baik untuk kembali percaya.

Dan, tugas kita bukan cuma pemerintah, melainkan kita semua yang masih sanggup menulis, mengajar, memimpin, berdagang, dan berdoa adalah menyediakan alasan itu. Satu per satu. Tanpa gimik, tanpa tagar, tanpa panggung. 

Sebab, sejarah pada akhirnya tidak ditulis mereka yang paling keras berteriak. Ia ditulis oleh mereka yang, di tengah kelelahan paling dalam, masih memilih untuk bangun pagi dan membuka warung. (*)

*) Yudi Fathoni Wijaya, kandidat doktor pengembangan sumber daya manusia Universitas Airlangga.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: