UNUSA Kampus NU yang Inklusif
SALAH seorang di antara para wisudawan di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya ternyata adalah umat Katolik. Seorang biarawati.-Budi Santoso untuk Harian Disway-
Kedua, persaingan global. Menurut rektor, para wisudawan tidak lagi hanya bersaing dengan lulusan dari Surabaya atau Indonesia, tetapi mereka juga akan bersaing dengan talenta dari seluruh dunia.
Harapan rektor, para wisudawan akan dapat membuktikan bahwa mereka adalah lulusan UNUSA yang kompeten dan profesional.
Ketiga, ujian integritas. Di dunia kerja, para wisudawan akan sering dihadapkan pada persimpangan jalan antara ”jalan pintas yang menggiurkan” atau ”jalan lurus yang penuh tantangan”.
Di sinilah karakter integritas para wisudawan akan diuji. Dalam kesempatan itu, rektor mengingatkan, kesuksesan yang diraih dengan cara yang tidak benar tidak akan pernah membawa keberkahan.
Di akhir sambutannya, rektor UNUSA menegaskan bahwa para wisudawan seyogianya tidak gentar menghadapi semua tantangan. Tantangan-tantangan itu bukanlah tembok penghalang, melainkan tangga untuk naik kelas.
UNUSA telah membekali kalian dengan kompetensi dan nilai-nilai keislaman yang kuat. Gunakan tersebut sebagai kompas kalian. Demikian rektor UNUSA menutup sambutannya. (*)
*) Budi Santoso, dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Nahdlatul Ulama, Surabaya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: