Blank Journalism dalam Pemberitaan

Blank Journalism dalam Pemberitaan

ILUSTRASI Blank Journalism dalam Pemberitaan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Mem-blow up peristiwa pembunuhan, terorisme, dan aksi-aksi kekerasan lain dengan standar jurnalistik yang baku adalah keharusan. Itu adalah fakta dan peristiwa. 

Mungkin saja berita-berita kriminal tersebut telah memenuhi teknik jurnalistik, cover both sides, sudah cross check, recheck, konfirmasi, dan dengan fakta-fakta di lapangan disertai investigasi yang benar. 

Namun, mungkin saja liputan yang sudah standar itu masih berakibat buruk juga terhadap orang lain. Khususnya, bagi keluarga pelaku, keluarga korban, dan terutama bagi anak-anak mereka lantaran teknik penyajian berita tersebut tidak cukup peka terhadap penderitaan mereka.

Keempat, pemberitaan media terlalu banyak atau terlalu konsentrasi pada berita-berita buruk (concentrate on bad news). Berita-berita yang buruk mungkin bertujuan memberikan informasi yang benar. 

Misalnya, agar orang lain tidak mengulang keburukan itu. Mencegah agar tidak melakukan hal-hal yang buruk. Dengan kata lain, berita seperti itu wujud kontrol sosial media pemberitaan. 

Namun, berita-berita seperti itu dapat mendorong pers berlaku tidak fair (unfairness). Sebab, media bisa saja menjadi kurang memberikan porsi yang memadai terhadap berita-berita yang menyenangkan. 

Berita yang membuat publik kagum, bersimpati, dan respek untuk berempati sehingga terdorong ikut menciptakan kebersamaan dan kemajuan bersama.

***

Oleh sebab itu, beritaan media yang baik tidak cukup berbekal etika jurnalistik dan teknik pemberitaan yang standar. Selain itu, diperlukan apresiasi jajaran media yang kuat terhadap dampak yang bakal ditimbulkan pemberitaannya. 

Jajaran media perlu memiliki sikap empati yang dalam terhadap masalah yang dihadapi orang lain, terutama pihak yang sedang menjadi subjek pemberitaan. 

Perlu dipahami bahwa trial by the press tidak selalu karena liputan yang tidak cover both sides. Trial by the press tidak senantiasa disebabkan teknik-teknik liputan dan penulisan berita yang menyimpang dari standar jurnalistik yang baku. 

Namun, sering pula terjadi karena media merasa paling tahu dan paling memahami persoalan. Jajaran media tidak peka terhadap masalah, penderitaan, dan psikologi publik. (*)   

*) Maksum, wartawan senior, mantan ombudsmen media, dan dosen PTS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: