Rupiah Tembus Rp17.300 per Dolar AS, Celios Sebut Bukan Karena Undervale
Nilai tukar rupiah kini tertekan menembus Rp17.300 per dolar AS. Bhima Yudhistira dari Celios menyoroti dampak kebijakan fiskal pemerintah dan tantangan ekonomi global.--
HARIAN DISWAY - Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh angka Rp 17.300 per dolar AS pekan ini dinilai sebagai dampak gabungan dari kondisi manajemen fiskal pemerintah dan berbagai tekanan faktor eksternal.
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira, menyampaikan bahwa klaim yang menyebut rupiah undervalue kurang tepat, mengingat tren pelemahan sebenarnya sudah terjadi sejak awal tahun. Namun, ditahan oleh Bank Indonesia melalui intervensi cadangan devisa.
Bhima menilai, berbagai kebijakan fiskal pemerintah seperti pelebaran defisit APBN, pengalihan aset BUMN ke Danantara, hingga program-program skala besar seperti MBG menjadi sorotan para investor. “Begitu investor lakukan aksi jual, maka rupiah tertekan,” kata Bhima pada Harian Disway.
Situasi tersebut semakin diperburuk oleh ketidakpastian geopolitik global yang memicu lonjakan harga minyak mentah. Hal ini menyebabkan biaya impor minyak meningkat dan defisit transaksi yang berjalan ikut melebar.
BACA JUGA: Rupiah Jeblok ke Rp 17.300, Menkeu Purbaya: Fondasi Ekonomi Indonesia Tetap Kuat
BACA JUGA: Rupiah Tembus Rp17 Ribu Per Dolar di Tengah Perang Iran–AS, Harga BBM Terancam Naik
Bhima menegaskan bahwa kunci stabilitas kurs saat ini terletak pada keberanian pemerintah untuk segera melakukan rasionalisasi program besar seperti MBG dan program lainnya untuk dialokasikan ke subsidi energi.

“Jika asumsi harga minyak mentah di 90-100 USD per barrel butuh 100-150 triliun tambahan anggaran subsidi, maka pemerintah bisa ambil dari MBG yang anggarannya 335 triliun,” tambahnya.
Meski demikian, Bhima menyampaikan adanya dilema kebijakan yang dihadapi pemerintah. “Persoalannya masyarakat dan investor tentu tidak terima kalau MBG belum dipangkas signifikan, kemudian harga BBM dan LPG naik,” ujarnya.
Sebagai solusi alternatif, ia mendorong pemerintah untuk mengambil langkah kreatif guna menekan konsumsi BBM melalui subsidi transportasi publik secara masif, daripada hanya mengandalkan kebijakan bekerja dari rumah (WFH).
BACA JUGA: Rupiah Senin diprediksi melemah seiring gagalnya negosiasi AS-Iran
BACA JUGA: Rupiah terima sentimen risk-off akibat ketidakpastian di Timur Tengah
Ia mencontohkan langkah pemerintah Pakistan yang mampu menekan konsumsi energi dengan menggratiskan transportasi umum.
“Cara kreatif ini belum ditempuh pemerintah, sehingga investor melihat rupiah tidak didukung pemulihan kebijakan yang memadai,” tutup Bhima.(*)
*) Peserta Magang dari Universitas Trunojoyo Madura.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: