Fakta dan Sejarah KA Argo Bromo Anggrek yang Terlibat Kecelakaan Tragis di Bekasi
KA Argo Bromo Anggrek kereta tercepet di Indonesia menempuh Jakarta–Surabaya sekitar 720 km dalam 8–9 jam. Insiden Kecelakaan di Bekasi Timur memicu sorotan pada keselamatan kereta jarak jauh.-kai-
JAKARTA, HARIAN DISWAY - Tabrakan maut terjadi pada Senin malam, 27 April 2026, di Stasiun Bekasi Timur, melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line. Peristiwa tragis tersebut menimbulkan korban jiwa sedikitnya 14 orang, serta 84 lainnya mengalami luka.
Data terbaru hingga pukul 08.45 WIB disampaikan Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin, tercatat total korban meninggal mencapai 14 orang.
"Korban meninggal dunia telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi lebih lanjut." kata Bobby dalam keterangan resminya dikutip disway.id.
BACA JUGA:Prabowo Perintahkan Investigasi Tabrakan Kereta Bekasi, Soroti 1.800 Perlintasan Tak Terjaga
BACA JUGA:KAI Tanggung Biaya Korban Tabrakan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek, 14 Tewas dan 84 Luka
Sebanyak 84 orang yang mengalami luka kini telah menjalani perawatan medis di sejumlah fasilitas kesehatan.
Selama ini, kereta jarak jauh tersebut dikenal sebagai layanan premium dengan rute utama Jakarta menuju Surabaya.
Waktu tempuh yang efisien serta fasilitas yang nyaman membuat KA Argo Bromo Anggrek sering dipilih penumpang yang mengutamakan kecepatan dan kenyamanan.
Di balik insiden itu, muncul klaim yang menyebut KA Argo Bromo Anggrek sebagai kereta dengan kecepatan tertinggi untuk jarak jauh. Benarkah demikian? Berikut penjelasannya.
Sejarah KA Argo Bromo Anggrek
Awalnya, KA Argo Bromo Anggrek beroperasi dengan nama Argo Bromo JS-950 sejak 31 Juli 1995. Istilah “JS” merujuk pada rute Jakarta–Surabaya. Angka “9” menggambarkan durasi perjalanan, sementara “50” menunjukkan usia kemerdekaan Republik Indonesia saat itu.
BACA JUGA:Prabowo Subianto Temui Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi
BACA JUGA:13 KA Jarak Jauh Dibatalkan Imbas Kecelakaan Kereta di Bekasi, Penumpang Dapat Refund Penuh
Perkembangan layanan terjadi pada 24 September 1997 melalui peluncuran varian “Anggrek”, yang diambil dari bunga nasional Indonesia. Nama “Bromo” sendiri berasal dari gunung berapi terkenal yang berada di Jawa Timur.
Sejak awal beroperasi, kereta ini langsung berada di level tertinggi layanan perkeretaapian nasional. Hal itu terlihat dari penggunaan nomor perjalanan 1 sampai 4 dalam Gapeka, yang menunjukkan prioritas utama dalam operasionalnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: