Cumi Darat, Subkultur atau Ekspresi Identitas yang Merabunkan Etika?

Cumi Darat, Subkultur atau Ekspresi Identitas yang Merabunkan Etika?

ILUSTRASI Cumi Darat, Subkultur atau Ekspresi Identitas yang Merabunkan Etika?-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

DALAM dunia ini, tren sangat memengaruhi bagaimana masyarakat berdinamika secara sosial. Tidak dapat dimungkiri bahkan pada dunia otomotif sekalipun. Mengapa hal itu bisa terjadi? Di era dunia yang berevolusi dengan cepat, tren hadir sebagai representasi dari hal baru dan cenderung bersifat sementara saja. 

Kata banyak orang, kalau kita tidak mengikuti tren, artinya, kita ketinggalan zaman. Dunia otomotif pun merupakan salah satu segmen yang tidak bisa terlepas dari kemunculan tren apa pun itu. Entah tren tersebut sebenarnya bersifat baik atau buruk. Belakangan ini, tren otomotif yang sedang naik daun dalam masyarakat, terkhusus anak muda, adalah tren cumi darat.

APA ITU TREN CUMI DARAT?

Lalu, apakah cumi darat itu sebenarnya? Singkatnya, tren cumi darat adalah tren pemilik mobil, khususnya mobil yang menggunakan bahan bakar mesin berupa diesel, melakukan modifikasi pada mobilnya. 

Meski modifikasi kendaraan itu sendiri terbilang sangat umum dan banyak dilakukan para pencinta otomotif, modifikasi yang satu ini terbilang cukup mengundang banyak pertanyaan dan malah mengarah pada kontroversi. 

Alasannya adalah modifikasi yang dilakukan pemilik mobil itu cenderung bersifat merugikan lingkungan dan membahayakan pengguna jalan. Mengapa begitu? Sebab, modifikasi yang dilakukan adalah menyetel mesin hingga menghasilkan asap berwarna hitam layaknya tinta cumi-cumi. Begitulah asal mula dari nama cumi darat tersebut.

TUJUAN DAN ALASAN MODIFIKASI

Mengapa mereka memilih modifikasi cumi darat tersebut? Sederhananya, karena terlihat keren –atau setidaknya itu yang ada di pikiran orang yang memodifikasi mobilnya itu. Bayangkan, mobil bertenaga diesel digeber dengan suara mesin yang menggerung dan mengeluarkan asap hitam dari knalpot belakang. 

Ya, bisa saja dalam bayangan mereka itu terlihat seperti supercar yang diidam-idamkan kebanyakan orang. Di sinilah persepsi itu mengundang banyak pertanyaan. Memang, kebanyakan orang pada umumnya melakukan modifikasi pada mesin kendaraan karena kebutuhan akan performa tambahan. 

Ekspektasi mengenai tenaga dan torsi mobil yang makin kuat, ilusi persepsi akan angka spesifikasi yang naik, maka akan makin baik. Jika kita mengombinasikan itu semua, ego dan gengsi para pemodif mobil tersebut akan makin tinggi pula.

NYATANYA BAGAIMANA? BANYAK HAL NEGATIFNYA

Namun, di balik itu semua, modifikasi yang seharusnya menambah tenaga atau torsi mobil, bahkan mungkin juga yang seharusnya meningkatkan gengsi dan gaya, justru sebenarnya bersifat sangat berkebalikan 180 derajat. 

Lihat saja, dari sisi subkultur dunia otomotif yang sudah ada dari dulu, yaitu modifikasi, tren cumi darat itu memberikan pandangan yang kontroversial dan mengarah ke stigma negatif terkait modifikasi. 

Dari segi lingkungan, modifikasi mesin seperti itu malah memperburuk polusi udara, merusak mesin, dan malah boros solar, yang tentunya juga sekaligus bersifat counterintuitive dengan eksistensi mesin diesel yang sudah diklaim hemat bahan bakar, yang seharusnya meminimalkan polusi udara. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: