Isu Hantavirus Mencuat, IDAI: Risiko Penularan Antarmanusia Rendah, Tak Seperti Covid-19
IDAI imbau masyarakat tidak panik terkait isu Hantavirus. Kuncinya adalah konsisten menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan PHBS guna mencegah penularan yang bersumber dari hewan pengerat, terutama tikus.--
HARIAN DISWAY - Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI) angkat bicara menanggapi kekhawatiran masyarakat terkait isu penyebaran Hantavirus yang baru-baru ini mencuat akibat kasus di Kapal Pesiar MV Hondius di barat Afrika.
Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI Piprim Basarah Yanuarso menekankan bahwa kunci utama dalam menghadapi ancaman penyakit menular seperti Hantavirus ini adalah penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Ia menghimbau para orang tua agar menjaga kebersihan lingkungan rumah guna memastikan tidak ada hewan pengerat, terutama tikus, yang berkeliaran di area dapur dan makanan.
“Setiap penyakit menular kuncinya adalah PHBS, perilaku hidup bersih dan sehat. Rajin cuci tangan, kemudian higiene dan sanitasi. Karena ini roden, berarti bagaimana supaya makanan kita, lingkungan kita itu juga bebas dari tikus-tikus ini,” kata dr. Piprim.
BACA JUGA: Daftar Negara Terpapar Kasus Hantavirus, Ada Tetangga RI?
BACA JUGA: Daftar Negara Terpapar Kasus Hantavirus, Ada Tetangga RI?
Sementara itu, Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI Dominicus Husada menjelaskan bahwa Hantavirus bukanlah virus baru.

MV Hondius tertahan di lepas pantai Cape Verde, barat Afrika akibat sebaran Hantavirus. Semua penumpang diisolasi -vesselfinder.com-
Virus ini dibawa oleh tikus dan menular melalui partikel virus yang terdapat pada urin, kotoran, atau air liur hewan tersebut.
Ia meluruskan bahwa meskipun kasus di kapal pesiar melibatkan virus varian Andes yang bisa menular antarmanusia, penularan tersebut hanya terjadi melalui kontak erat yang sangat lama.
“Risiko terhadap publik relatif rendah, karena ini bukan Covid-19, bukan influenza. Jadi kalau kita tidak merupakan kontak erat, ketemu hanya sesekali, praktis risiko kita itu kecil juga untuk tertular. Jadi kita tidak perlu terlalu takut,” jelas Dominicus.
BACA JUGA: Apakah Hantavirus Ada di Indonesia? Ini Penjelasan Kemenkes
BACA JUGA: Jadi Wabah di MV Hondius, Apakah Hantavirus adalah Penyakit Baru?
Selanjutnya, ia juga menyampaikan bahwa di Indonesia telah tercatat beberapa kasus Hantavirus sejak tahun 2015, namun jenis yang ditemukan bukan varian Andes yang ada di Amerika Selatan.
Kendala utama dalam penanganan virus ini di dalam negeri adalah keterbatasan reagen laboratorium yang sebagian besar masih berpusat di Jakarta.
IDAI mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terjebak dalam kepanikan yang berlebihan, mengingat karakteristik penularan virus ini sangat berbeda dengan COVID-19.
Meskipun demikian, masyarakat diminta untuk tetap waspada dengan menjaga kebersihan lingkungan masing-masing.(*)
*)Peserta Magang dari Universitas Trunojoyo Madura.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: