Menilik Museum Biografi Nabi Muhammad: Dibangun dari Riset 20 Tahun, Dilengkapi Teknologi VR dan 3D
Replika Gua Tsur dan Gua Hira di Museum Perjalanan Rasulullah di Kota Madinah. Ustadz Adz Dzahabie, pemandu tur, memaparkan sejarah dan riwayat Rasulullah kepada para jamaah haji, Jumat, 8 Mei 2026.-Khomsurijal-MCH Kemenhaj 2026-
“Di sini jamaah akan dibawa ke masa bagaimana Masjid Nabawi di masa Rasul serta kamar rumah Rasulullah SAW,” jelas Ustadz Adz Dzahabie.
Teknologi yang digunakan bukan sekadar layar datar. Ada ruang panorama, magic box, hingga virtual reality yang membuat pengunjung seolah benar-benar berada di dalam rumah Nabi.
Ukuran kamar, letak pintu, tempat air, hingga posisi makam Rasulullah yang sejajar dengan Abu Bakar dan Umar. Semuanya divisualisasikan dengan detail.
BACA JUGA:Peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW, Melibatkan Ruh atau Ruh beserta Jasad?
BACA JUGA:Alasan Nabi Musa Bujuk Nabi Muhammad Minta Keringanan Kewajiban Shalat
Museum dirancang dalam dua bagian besar. Bagian pertama menampilkan biografi Nabi Muhammad SAW. Meliputi keluarga, ciri fisik, pakaian, perabot rumah tangga, hingga obat-obatan alami yang digunakan beliau. Itu disajikan melalui layar sentuh interaktif yang mudah dipahami.
Bagian kedua membawa pengunjung ke suasana Kota Madinah pada masa Rasulullah. Ada maket besar yang menggambarkan kota tua, lengkap dengan jalur-jalur kecil, rumah-rumah sederhana, dan Masjid Nabawi ketika pertama kali dibangun dengan pilar batang kurma dan atap dari pelepah daun.
Salah satu yang paling menyentuh adalah kisah mimbar Rasulullah yang divisualisasikan dengan apik. Bagaimana batang kurma yang dulu menjadi sandaran Rasulullah saat khotbah menangis karena rindu ketika mimbar baru dibuat. Suara tangis itu, menurut riwayat, terdengar oleh para sahabat.
“Ini bukan sekadar museum. Ini ruang belajar, ruang mengenal kembali sosok manusia paling mulia,” imbuh Ustadz Adz Dzahabie.
BACA JUGA:Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW, Dari Timur Tengah Hingga Indonesia
BACA JUGA:Isra Mikraj, Perjalanan Nabi Muhammad di Bulan Rajab Bertemu Allah hingga Menerima Perintah Salat
Bagi jamaah Indonesia, museum ini terasa sangat ramah. Selain Ustadz Adz Dzahabie, ada pemandu lain yang fasih berbahasa. Total ada tujuh bahasa pemanduan yakni Arab, Inggris, Indonesia, Urdu, Turki, Rusia, dan Prancis.
“Khusus layanan bahasa Indonesia dibuka pukul 08.00 pagi sampai ba’da Ashar, hari Ahad sampai Kamis. Jumat mulai ba’da Jumatan, Sabtu mulai ba’da Asar,” jelasnya.
Harga tiketnya pun cukup terjangkau. 40 riyal untuk satu lantai, dan 70 riyal untuk paket lengkap dua lantai. Tiket bisa dibeli langsung di lokasi atau melalui situs resmi museum.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: