Dari Unicorn ke Realitas: Retaknya Ilusi Start-up (Pelajaran dari eFishery)

Dari Unicorn ke Realitas: Retaknya Ilusi Start-up (Pelajaran dari eFishery)

ILUSTRASI Dari Unicorn ke Realitas: Retaknya Ilusi Start-up (Pelajaran dari eFishery).-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

KASUS yang menimpa eFishery bukan sekadar perkara hukum individual. Itu adalah titik refleksi yang memaksa kita menguji ulang fondasi narasi besar industri start-up, yaitu pertumbuhan cepat, valuasi tinggi, dan gebrakan yang bernuansa disruptif di era digital. 

Dalam perspektif manajemen strategik, peristiwa itu membuka pertanyaan mendasar, apakah model bisnis start-up selama ini dibangun di atas keunggulan nyata atau sekadar konstruksi ekspektasi yang terlalu optimistis? 

Kasus eFishery adalah cermin yang memantulkan realitas pahit: inovasi tanpa integritas adalah ilusi. Industri start-up tidak sedang runtuh, tetapi sedang mengalami koreksi kedewasaan.

Awal lahirnya start-up adalah sebagai entitas disruptif, menantang model bisnis lama melalui teknologi dan inovasi. Di Indonesia, gelombang itu mulai menguat sekitar 2010–2015, ditandai kemunculan unicorn seperti Gojek dan Tokopedia. Secara global, fase itu lebih awal dimulai di Silicon Valley pada akhir 1990-an hingga pascakrisis 2008.

BACA JUGA:Bareskrim Ungkap Kasus Penggelapan Investasi PT eFishery

BACA JUGA:Start-up Model Kegagalan eFishery

Kemajuan iptek yang diwarnai perkembangan inovasi digital, yang selama ini diyakini banyak pihak, selalu identik dengan efisiensi dan keberlanjutan. Padahal, pandangan itu tidak selalu benar. Banyak model bisnis start-up yang bergantung pada subsidi harga dan strategi ”bakar uang”, baik untuk mengakuisisi pengguna maupun memancing minat para pemodal atau venture capital (VC).

Kelangsungan pertumbuhan bisnis start-up sangat memerlukan kedisiplinan, baik dalam sistem VC maupun dalam regulasi yang menopang dasar pijakannya. Di AS dan Eropa, pertumbuhan bisnis rintisan relatif kokoh karena disokong ekosistem yang matang. 

Berbeda dengan Indonesia dan ASEAN, meskipun dalam fase pertumbuhan cepat, ekosistem tata kelola (governance) sering kali tertinggal.

Selama satu dekade terakhir, kapitalisasi start-up melonjak drastis. Secara global, valuasi perusahaan teknologi swasta mencapai triliunan dolar, dengan fenomena unicorn (valuasi > USD1 miliar) dan decacorn

BACA JUGA:Gelombang PHK Start-up

BACA JUGA:Bantu Dongkrak Penjualan dan Harga: Start-up Jadi Bintang dalam Bisnis

Global VC funding mencapai puncak sekitar 2021 (lebih dari USD600 miliar), lalu menurun tajam setelah pengetatan moneter. Sementara itu, Indonesia mencatat lebih dari sepuluh unicorn dalam satu dekade terakhir. 

Valuasi sering dipersepsikan sebagai indikator kinerja riil. Padahal, valuasi adalah fungsi ekspektasi masa depan, bukan performa saat ini. Pendukung model itu berargumen bahwa valuasi tinggi diperlukan untuk mempercepat ekspansi dan memenangkan pasar. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: