Ekonomi Pasar Pancasila dan Harapan Kesejahteraan Bangsa
WIJAYANTO Samirin (kiri) saat berbicara dalam peluncuran buku Ekonomi Pasar Pancasila di Jakarta, 11 Mei 2026.-Tofan Mahdi untuk Harian Disway.-
DI tengah tantangan pembangunan ekonomi yang memprioritaskan pertumbuhan tetapi menomorduakan pemerataan, lahir konsep pemikiran Ekonomi Pasar Pancasila (EPP) yang diperkenalkan kali pertama oleh Presiden Ke-3 RI B.J. Habibie.
Bagaimana konsep dan implementasi kebijakan sistem ekonomi alternatif yang menyinergikan liberalisasi ekonomi dengan kesejahteraan sosial tersebut?
Berikut ringkasan buku Ekonomi Pasar Pancasila (EPP) yang diterbitkan Universitas Paramadina bekerja sama dengan Kementerian Dalam Negeri RI dan Konrad Adeneur Stiftung (KAS) Jerman.
Tantangan Pemerataan
Keberhasilan pembangunan sebuah negara tidak bisa hanya diukur dari indikator-indikator makroekonomi seperti tingkat pertumbuhan ekonomi, pendapatan per kapita, maupun nilai perdagangan internasionalnya.
BACA JUGA:Ekonomi Sibuk vs Ekonomi Kuat: Mengapa 9,78 Juta UMKM Jatim Belum Melompat?
BACA JUGA:Ujian Kedaulatan Ekonomi RI di Tengah Krisis Energi Global: Gagalnya Dialog Iran-AS
Perlu dilihat juga bagaimana pertumbuhan ekonomi mampu mengurangi jumlah kemiskinan dan mempersempit kesenjangan kesejahteraan. Distribusi pendapatan lebih mencerminkan kondisi riil perekonomian masyarakat dalam sebuah negara.
Sebagai sebuah negara berkembang, Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi yang positif setelah pandemi Covid-19. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022–2025 berturut-turut adalah 5,31%; 5,05%; 5,03%; dan 5,11%.
Bahkan, pada triwulan pertama tahun 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61%. Namun, konflik geopolitik di Timur Tengah diperkirakan menekan pertumbuhan ekonomi global dari kuartal kedua hingga akhir 2026.
Capaian pertumbuhan ekonomi yang mengesankan sejak 2022 hingga kuartal pertama 2026 menjadi indikator bahwa kegiatan ekonomi di sejumlah sektor bergerak positif. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2026, pertumbuhan PDB menurut lapangan usaha –kecuali petambangan dan penggalian– tumbuh positif.
BACA JUGA:Kapitalisme Ekonomi dalam Konteks Keindonesiaan: Telaah Praktik Kapitalisme di Era Prabowo Subianto
BACA JUGA:Ekonomi Komunal Lokal vs Elite Global
Sektor perdagangan tumbuh 5,49%, pertanian 5,33%, industri pengolahan 5,3%, dan konstruksi 3,8%. Pertumbuhan minus 0,66% dialami sektor pertambangan dan penggalian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: