Mengenal Ritual Spiritual Thudong, Inti dari Indonesia Walk for Peace (IWFP) 2026
SETANGKAI MAWAR MERAH diterima Nafasa Putri dari salah seorang biksu yang melintas Jalan Urip Sumoharjo pada Jumat, 15 Mei 2026.-Boy Slamet-Harian Disway
SURABAYA, HARIAN DISWAY - Selama tiga hari, 14-16 Mei 2026, perhatian masyarakat Surabaya tertuju di jalanan yang menjadi rute Indonesia Walk for Peace (IWFP) 2026. Sebanyak 58 biksu (bhikkhu) menyusuri tepian jalan aspal sembari melawan sengat matahari yang membakar kulit.
Jubah mereka yang berwarna terang menjadi kuyub oleh keringat. Tanpa pelindung khusus, mereka melangkah cepat di antara ramai kendaraan yang mengepulkan asap dan roda-rodanya menerbangkan debu.
Thudong, nama laku spiritual yang mereka jalani, jelas bukan perjalanan yang mudah. Apalagi, hari-hari ini, siang bukanlah waktu yang tepat untuk berjalan-jalan di Kota Pahlawan. Cuaca Surabaya sedang panas-panasnya!
Namun, Ketua Rombongan biksu IWFP 2026 Phra Phanarin Oaksonthip mengatakan bahwa dukungan dan sambutan warga Surabaya membawa kesejukan bagi mereka.
BACA JUGA:Indonesia Walk for Peace 2026: Perjalanan Spiritual Biksu Disambut di Katedral Surabaya
BACA JUGA:Singgah di Grahadi, Rombongan Biksu Walk for Peace dari Empat Negara Serukan Perdamaian Dunia
"Suasana di sini sangat baik, sangat indah, dan menyejukkan," ujarnya melalui penerjemah ketika singgah di Gereja Hati Kudus Yesus Surabaya yang juga dikenal dengan nama Katedral Surabaya pada Jumat sore, 15 Mei 2026.
Thudong adalah ritual perjalanan spiritual jalan kaki jarak jauh yang dilakukan oleh para biksu dari berbagai negara. Biasanya, ritual itu melibatkan perjalanan ribuan kilometer.

THUDONG menempa mental dan spiritual para biksu lewat perjalanan ribuan kilometer. Para biksu Indonesia Walk for Peace (IWFP) melintas di Jalan Urip Sumoharjo menuju Katedral Surabaya Jumat, 15 Mei 2026.-Boy Slamet-Harian Disway
Tujuan akhir Thudong adalah Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah. Di candi Buddha terbesar dunia itu, para biksu akan bergabung dengan umat untuk merayakan Waisak yang mencapai puncaknya pada 31 Mei 2026.
Thudong juga dikenal sebagai praktik meditasi, latihan kesederhanaan, dan pengendalian diri (dhutanga). Cara yang paling lazim dilakukan adalah menyatu dengan alam.
BACA JUGA:Rasa Lelah dan Kaki Lecet Para Biksu Walk for Peace Terbayar Sambutan Hangat Warga Surabaya
BACA JUGA:Terik Matahari Iringi Walk For Peace 56 Biksu di Surabaya, Hari Ini Singgah di Balai Kota dan Grahadi
Berjalan kaki merupakan sarana untuk menyatu dengan alam. Secepat-cepatnya berjalan kaki, seseorang tidak akan mungkin melewatkan begitu saja kejadian di sekitarnya.
Maka, dengan berjalan kaki, para biksu bisa menjumpai dan merasakan langsung dukungan dari orang-orang yang mengiringi atau sekadar menemui mereka di sepanjang rute.
Dalam ritual Thudong, para biksu juga tidak memakai alas kaki khusus atau yang sengaja dirancang untuk memberikan kenyamanan kepada mereka selama berjalan kaki.
Itu karena Thudong yang berasal dari kata dalam Bahasa Pali dhutanga artinya latihan keras untuk menyucikan diri. Acuannya adalah tradisi biksu pengembara pada zaman Buddha.
BACA JUGA: Menag Nasaruddin Umar: Waisak Momentum Menanamkan Kebajikan dan Wujudkan Perdamaian Dunia

USKUP SURABAYA Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo (berdiri) menyambut rombongan para biksu Indonesia Walk for Peace (IWFP) 2026 di Gereja Katolik Hati Kudus Yesus alias Katedral Surabaya Jumat, 15 Mei 2026.-Boy Slamet-Harian Disway
Sepanjang rute di Surabaya, masyarakat antusias mengiringi perjalanan para biksu yang berasal dari empat negara itu. Selain dukungan moral, mereka juga memberikan dukungan material. Seperti, minuman, makanan, dan vitamin.
Biksu Phra Phanarin Oaksonthip mengatakan bahwa banyak masyarakat membantu perjalanan para biksu. Mulai menjaga rute perjalanan hingga memenuhi kebutuhan selama perjalanan berlangsung.
Nafasa Putri, misalnya. Bocah perempuan berusia 8 tahun itu sengaja nyanggong di Jalan Urip Sumoharjo, rute yang dilewati rombongan biksu dalam perjalanan dari Gedung Negara Grahadi menuju Katedral Surabaya.
Dia duduk di atas batu bulat penghias jalanan Kota Pahlawan, menantikan kedatangan rombongan. Wajahnya semringah begitu melihat para biksu berjalan cepat dalam barisan.
BACA JUGA:Menteri Agama RI Sampaikan Ucapan Selamat Hari Raya Waisak Untuk Umat Buddha di Seluruh Indonesia
Hati anak kecil yang tinggal di Kampung Keputran Pasar Kecil 2 itu berbunga-bunga ketika salah seorang biksu mendekatinya lalu mengulurkan sekuntum mawar merah ke arahnya.
Tentu saja kesempatan itu tak disia-siakan Nafasa. Dia langsung menerima kembang yang dibawa sang biksu dari Grahadi itu. Senyumnya langsung merekah.
Tak ada kata-kata yang terucap dari mulut sang biksu, begitu pun dari mulut Nafasa. Dalam hening, hati mereka saling bicara.
Perhatian dan kehangatan yang ditunjukkan sang biksu melalui mawar merah itu membuat Nafasa dan orang-orang di sekitarnya ikut merasa damai.
BACA JUGA:Ribuan Umat Buddha Rayakan Waisak di Grand City Surabaya
BACA JUGA:Balon dan Lampion Marakkan Waisak Majapahit 2024 di Mojokerto
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: