Pesantren Bukan Rumah Predator Seksual
ILUSTRASI Pesantren Bukan Rumah Predator Seksual.-Arya/AI-Harian Disway -
Kita harus mampu membedakan antara institusi yang mulia dan oknum yang mengkhianati nilai-nilai institusi tersebut. Pelaku harus dihukum berat, tetapi pesantren yang tetap konsisten mendidik generasi bangsa juga harus mendapat dukungan.
Kasus di Pati adalah pengingat bahwa kejahatan bisa terjadi di mana saja ketika pengawasan lemah dan kekuasaan tidak dikontrol. Namun, kasus itu bukan representasi dari wajah pesantren Indonesia secara keseluruhan.
Mayoritas pesantren di negeri ini tetap menjadi benteng moral masyarakat. Di tempat-tempat itulah ribuan anak belajar tentang kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan nilai-nilai agama yang damai. Di sana pula para santri diajarkan untuk menghormati sesama manusia dan menjauhi perbuatan zalim.
Karena itu, mari bersikap adil. Kutuk keras pelaku pencabulan. Dukung proses hukum tanpa kompromi. Berikan perlindungan penuh kepada korban. Namun, pada saat yang sama, jangan biarkan ulah segelintir orang meruntuhkan kepercayaan terhadap dunia pesantren yang selama ini telah memberikan kontribusi besar bagi bangsa.
Pesantren bukan tempat bagi predator seksual. Pesantren adalah rumah pendidikan moral. Dan, mayoritas pesantren di Indonesia masih menjaga kehormatan itu dengan sangat baik. (*)
*) Hisnindarsyah, pengurus Pusat Gerakan Nasional Ayo Mondok/Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter NU (PP PDNU).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: