Sajikan Cinta dan Dendam Berlatar Masa Kolonial, Novel 1890 Pikat Hati Anak Muda Surabaya

Sajikan Cinta dan Dendam Berlatar Masa Kolonial, Novel 1890 Pikat Hati Anak Muda Surabaya

PENULIS novel 1890, Ayu Dewi (kanan), berbincang dengan moderator Fifin Maidarina dalam talkshow yang digelar Semesta Buku dan komunitas Perempuan Penulis Padma (Perlima). --Perlima untuk Harian Disway

SURABAYA, HARIAN DISWAY - Demi 1890, Ayu Dewi harus banyak membaca sejarah. Selain itu, dia juga harus berkunjung ke tempat-tempat yang menjadi latar kisahnya. Kendati yang dia tuliskan adalah kisah tak nyata alias fiksi, latar sejarah dan unsur sosial ekonomi masyarakatnya tak boleh asal. 

"Kalau sejarah kan harus sesuai fakta. Jadi memang perlu riset lebih dalam," ujar Ayu dalam gelar wicara Selamat Datang di Tahun 1890 pada Minggu, 17 Mei 2026.

Dalam diskusi yang dipandu Fifin Maidarina di Convention Hall Tunjungan Plaza 3 itu, Ayu menjelaskan proses kreatif penulisan novelnya. Dia mengakui bahwa prosesnya memakan waktu yang cukup panjang.

Saat mengunjungi lokasi bersejarah di kota-kota yang menjadi latar tulisannya, dia sekaligus membayangkan plot dan alur cerita. 

BACA JUGA: Ulasan Novel Anak Karya Witaru Emi, Kursi Berhantu dan Pesan Rahasia: Hantu itu Bernama Keserakahan

BACA JUGA: 7 Fakta Menarik Film Tukar Takdir, Adaptasi Novel Vabyo hingga Emosi Para Pemain


GELAR WICARA novel 1890 karya Ayu Dewi berlangsung di Convention Hall Tunjungan Plaza 3 Surabaya pada Minggu, 17 Mei 2026. --Perlima untuk Harian Disway

Untuk memperkaya wawasannya, Ayu juga membaca berbagai buku sejarah agar mendapatkan gambaran riil tentang suasana, kebiasaan masyarakat, dan cara berkomunikasi pada masa itu.

"Mari kita bayangkan suasana Hindia Belanda pada akhir abad ke-19," kata Fifin. Karena tema yang Ayu usung dalam novelnya adalah cinta dan dendam, dia mengajak audiens membayangkan romansa pada masa itu.

"Ketika itu, hanya surat yang berperan sebagai penghubung rindu dan cinta. Kisah cinta pada masa itu sering terkendala restu orang tua dan aturan keluarga," lanjutnya. 

Percakapan Fifin dan Ayu membawa audiens larut dalam nuansa tempo dulu. Khususnya, era kolonial di Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik. Tiga lokasi itu disebutkan Ayu dalam novelnya. 

BACA JUGA: BUMI karya Tere Liye, Rekomendasi Novel Awal untuk Dibaca Pemula

BACA JUGA: Thrift Market 3.0 Tawarkan Koleksi Buku Anak Hingga Novel Remaja

Dia mengaku tertarik pada latar 1890 karena masih jarang novel Indonesia yang mengambil setting di bawah tahun 1900-an.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: