Ketika Dunia Menyebut Kopi dengan Nama Jawa

Ketika Dunia Menyebut Kopi dengan Nama Jawa

Sejarah kopi Jawa yang mendunia sebelum era kafe. Alasan dunia menyebut secangkir kopi sebagai Java.-Nano Banana 2-Nano Banana 2

Dulu, sebelum kafe menjamur. Sebelum kopi susu gula aren menjadi gaya hidup. Sebelum anak-anak muda membawa laptop ke kedai kopi, dunia sudah lebih dulu mengenal satu kata: Java.

Bukan Java sebagai bahasa pemrograman. Bukan Java sebagai logo cangkir kopi mengepul di layar komputer.

Java yang dimaksud adalah Jawa. Pulau kita. Pulau yang hari ini lebih sering disebut karena kemacetan, politik, pabrik, dan kepadatan penduduknya.

Padahal, berabad-abad lalu, Jawa pernah membuat Eropa terjaga.

Secangkir demi secangkir. Pada abad ke-18, orang Eropa tidak selalu menyebut kopi sebagai coffee. Mereka sering menyebutnya Java. Kalau ingin minum kopi, cukup berkata: a cup of Java. Artinya sederhana: secangkir kopi. 

Itu bukan kebetulan. Bukan pula mitos yang dibesar-besarkan untuk membuat kita bangga. Pada masa itu, kopi dari Jawa memang begitu kuat menguasai pasar Eropa. Begitu dominan. Sampai nama tempat berubah menjadi nama benda.

Seperti orang Indonesia menyebut semua air mineral sebagai Aqua. Semua mi instan sebagai Indomie. Semua pasta gigi sebagai odol.

Bedanya, Java bukan hasil iklan. Bukan hasil kampanye merek. Bukan kerja konsultan branding.

Java lahir dari dominasi. Dari aroma. Dan juga dari sejarah yang getir.

BACA JUGA:Gandeng Konjen Australia, UK Petra Bantu Petani Sulap Limbah Kopi Jadi Arang dan Sirup Cascara

BACA JUGA:'Kopi Kok Asem?': Mengapa Arabika Sering Kalah Sebelum Diminum

Kopi sebenarnya bukan tanaman asli Jawa. Ia datang dari jauh. Dari Yaman. Dibawa oleh Belanda melalui jaringan dagang VOC. Percobaan pertama dilakukan di Batavia tahun 1696. Gagal. Banjir besar merusaknya. 

Menarik juga. Dari dulu, Batavia sudah punya masalah banjir. Bahkan sebelum republik ini lahir. Sebelum debat normalisasi dan naturalisasi sungai muncul di televisi.

Belanda tidak menyerah. Kopi terlalu mahal untuk dilepaskan. Eropa sedang tergila-gila pada komoditas tropis. Rempah, gula, teh, kopi. Semua bisa menjadi uang. Semua bisa menjadi kuasa.

Percobaan kedua dilakukan tahun 1699. Kali ini berhasil. Bibit kopi tumbuh. Dari Batavia, tanaman itu bergerak ke Priangan. Ke tanah-tanah subur. Ke lereng-lereng yang dingin. Ke wilayah yang sampai sekarang masih harum oleh nama kopi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: