Mobil Listrik Tidak Salah! Hasil Investigasi KNKT Bongkar Problem Persinyalan Kereta di Bekasi

Mobil Listrik Tidak Salah! Hasil Investigasi KNKT Bongkar Problem Persinyalan Kereta di Bekasi

Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) saat ini adalah Dr. Ir. Soerjanto Tjahjono.-TV Parlemen-TV Parlemen

JAKARTA, HARIAN DISWAY - Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi V DPR RI pada Kamis, 21 Mei 2026, membahas  tragedi tabrakan kereta di Bekasi Timur yang menewaskan 16 orang. 

Selama sebulan terakhir, opini publik seolah-olah memiliki musuh bersama, yaitu taksi listrik Green SM. Mobil listrik tersebut gencar dituduh mengalami mogok akibat sistem yang error, sehingga dianggap sebagai biang kerok utama dari rangkaian kecelakaan tersebut. 

Namun, dalam rapat tersebut, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) membuka data kotak hitam (black box) taksi listrik bernomor polisi B 2864 SBX. Temuannya justru membalikkan tuduhan publik. 

Mobil itu ternyata dalam kondisi normal dan tidak mengalami kerusakan sistem sama sekali dalam waktu satu jam sebelum kejadian. 

Kepala KNKT, Soerjanto Tjahjono menegaskan hal tersebut.  “Data dari perangkat pemantauan kendaraan B 2864 SBX menunjukkan tidak ada kesalahan sistem yang tercatat berdasarkan data yang dikumpulkan,” katanya.

Bahkan taksi buatan Vietnam bermerek VinFast tersebut dinyatakan sudah lulus pengujian kompatibilitas elektromagnetik di bawah standar India, yang setara dengan standar internasional UN R10. 

Kendaraan itu awalnya berjalan normal di turunan menuju rel dengan kecepatan 15 km/jam dengan posisi transmisi berada di D (Drive). 

BACA JUGA:Menteri PPPA Minta Maaf soal Usulan Gerbong Perempuan Usai Kecelakaan Kereta Bekasi

BACA JUGA:Kisah Haru Tim Basarnas Saat Mengevakuasi Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur

Lantas, mengapa mobil tersebut bisa terhenti di tengah rel? Investigasi menunjukkan adanya faktor kesalahan manusia.

Entah karena alasan apa, posisi gigi tiba-tiba dipindah oleh sopir ke N (neutral). Mobil pun menggelinding bebas tanpa tenaga (coasting) dengan kecepatan sisa 3 sampai 7 km/jam.

Saat roda menyentuh rel dan pengemudi panik mencoba menginjak gas, motor penggerak jelas tidak memberikan respons karena transmisi masih tertahan di posisi netral.

“Pengemudi mencoba menginjak pedal gas hingga 25%. Namun, karena kendaraan masih dalam posisi N, tidak ada tenaga yang disalurkan ke roda dan kendaraan terus meluncur bebasm,” lanjut Soerjanto.

Pengemudi kemudian meningkatkan injakan gas hingga 51%, namun mobil tetap tidak bergerak hingga kecepatannya turun menjadi nol dan berhenti persis di atas rel aktif.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: