Diskusi Seni Dewan Kesenian Surabaya Bahas Ruang Seni yang Kini Kian Menyempit

Diskusi Seni Dewan Kesenian Surabaya Bahas Ruang Seni yang Kini Kian Menyempit

Narasumber menyampaikan pandangannya dalam Diskusi Seni Seri 2 bertajuk Seni Rupa dan Budaya Urban di teras Dewan Kesenian Surabaya, Balai Pemuda, Jumat (22/5).-Tri Yoga Arya-Harian Disway

SURABAYA, HARIAN DISWAY - Seniman SURABAYA mulai resah. Ruang ekspresi seni dinilai semakin menyempit, sementara daya kritik perlahan memudar di tengah derasnya budaya urban, budaya populer, hingga arus digital yang terus bergerak cepat.

Keresahan itu mengemuka dalam Diskusi Seni Seri 2 dengan topik Seni Rupa dan Budaya Urban yang digelar Dewan Kesenian Surabaya (DKS) di teras Balai Pemuda, Jumat sore, 22 Mei 2026.

Forum yang dimulai sekitar pukul 16.30 WIB itu berlangsung santai.

Para pemateri duduk lesehan di atas karpet di depan peserta. Sementara puluhan audiens dari berbagai kalangan menata sendiri kursi plastik yang mereka tempati.

BACA JUGA:Surabaya Art Prize 2026, Seniman Sampaikan Kritik Lingkungan dan Standar Kecantikan Perempuan di Orasis

BACA JUGA:Pameran Lukisan Monochrome Garis Gathuk Hadirkan 62 Karya Perupa dari Tujuh Kota

Ada yang duduk melingkar, ada pula yang memilih berdiri sambil menyimak jalannya diskusi.

Pesertanya pun beragam. Mulai seniman, mahasiswa, komunitas budaya, hingga pengunjung Balai Pemuda yang sekadar mampir.

Meski santai, suasana diskusi menghangat ketika pembahasan mulai menyentuh kritik sosial, budaya asing, hingga masa depan ruang seni di Surabaya.


Ketua Dewan Kesenian Surabaya (DKS) Chrisman Hadi membacakan puisi berjudul Surabaya Mari Berkaca dalam Diskusi Seni Seri 2 di Balai Pemuda Surabaya, Jumat (22/5).-Tri Yoga Arya-Harian Disway

Suasana forum sempat hening ketika Ketua DKS Chrisman Hadi maju dan membacakan puisi berjudul Surabaya Mari Berkaca.

BACA JUGA:Pameran di Xinjiang Ungkap Perjalanan Budaya Gerabah Prasejarah dari Sungai Kuning

BACA JUGA:Padhang Njingglang Art Fest 2026, Hidupkan Ruang Kreatif Anak di Candi Sanggrahan Tulungagung

Puisi itu ditulisnya sehari sebelumnya setelah mengingat perjalanan reformasi dan keresahan yang dirasakan para pelaku seni.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: