Psikologi Masa Depan dari James W. Pennebaker
ILUSTRASI Psikologi Masa Depan dari James W. Pennebaker.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
TULISAN kali ini merupakan rangkuman dari paparan salah satu pembicara utama dalam Kolokium Khusus Psikologi AP2TPI 2026 di Bandung pada 22–24 Juli 2026. Acara itu dihadiri 514 peserta dari 143 perguruan tinggi yang berasal dari 20 provinsi di Indonesia. Penyelenggaraannya melibatkan 14 perguruan tinggi sebagai panitia dari Korwil AP2TPI Jawa Barat.
Salah seorang pembicara utama yang mendapat perhatian khusus adalah Prof James W. Pennebaker. Topiknya menarik: The Future of Psychological Science. Masa depan psikologi. Tentu menarik. Apalagi, yang mengatakannya Pennebaker.
Ia bukan ilmuwan yang tiba-tiba berbicara tentang artificial intelligence hanya karena AI sedang menjadi tren. Jauh sebelum ChatGPT menjadi bahan pembicaraan di kampus, Pennebaker telah bertahun-tahun meneliti sesuatu yang sekarang sangat penting bagi AI: bahasa manusia.
Pennebaker adalah professor emeritus of psychology di University of Texas at Austin. Namanya dikenal luas melalui penelitian tentang expressive writing: bagaimana menuangkan pengalaman emosional dan traumatis ke dalam tulisan dapat berkaitan dengan kesehatan dan perilaku manusia.
BACA JUGA:Psikologi Pocong Begal: Saat Hoaks Medsos Menipu Otak Manusia
BACA JUGA:Antara Regulasi dan Psikologi Tenaga Pendidik, Mana yang Lebih Penting?
Ia juga salah seorang pengembang linguistic inquiry and word count (LIWC). Melalui perangkat itu, kata-kata yang digunakan manusia dapat dianalisis untuk melihat berbagai proses psikologis dan sosial.
Jadi, kata ternyata bukan sekadar kata.
Cara seseorang menggunakan kata ganti, kata emosi, ungkapan tentang waktu, hubungan sosial, atau pengalaman personal dapat meninggalkan jejak psikologis. Di situlah Pennebaker seperti sudah melihat masa depan lebih awal. Kini masa depan itu datang melalui AI.
Dari 100 Orang ke 100 Juta Data
Selama puluhan tahun psikologi berkembang dengan pola penelitian yang relatif mapan.
Ada teori. Dari teori dibuat hipotesis. Kemudian, peneliti mengumpulkan sejumlah partisipan, membuat eksperimen, mengukur perilaku mereka, lalu melakukan analisis statistik.
BACA JUGA:Antara Regulasi dan Psikologi Tenaga Pendidik, Mana yang Lebih Penting?
BACA JUGA:Efek Psikologi Massa: Saat Kata ‘Artikulasi’ Bikin Satu Negara Kompakan Jengkel
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: