Psikologi Masa Depan dari James W. Pennebaker
ILUSTRASI Psikologi Masa Depan dari James W. Pennebaker.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Apakah hipotesis yang diterima?
Apakah teori yang didukung data?
Begitulah ilmu berkembang.
Pendekatan tersebut sangat penting. Dari situlah lahir banyak teori psikologi yang sekarang kita pelajari di ruang-ruang kuliah.
Namun, dunia berubah.
Manusia sekarang meninggalkan jejak digital hampir setiap menit. Ketika menulis di media sosial, berkomunikasi melalui aplikasi, mencari informasi di internet, atau menggunakan perangkat digital, kita sebenarnya sedang menghasilkan data.
Jumlahnya bukan lagi ratusan. Bukan ribuan. Bisa jutaan. Bahkan miliaran. AI membuat data sebesar itu dapat dianalisis.
BACA JUGA:Anatomi Psikologi Hari Lansia: Ketika Didengarkan Adalah Obat dan Dilibatkan Adalah Vitamin
BACA JUGA:Surabaya 'Menagih' Nafkah Ayah: Perspektif Psikologi Sanksi Adminduk Pasca-Cerai
Komputer mampu menemukan pola yang mungkin tidak pernah terlihat oleh peneliti manusia. Dari pola bahasa dan komunikasi, misalnya, model komputasional dapat membantu memprediksi kecenderungan kepribadian, preferensi, kondisi kesehatan mental, sampai risiko psikologis tertentu.
Maka, penelitian psikologi juga mulai berubah. Dulu sangat kuat theory-driven. Kini makin diperkaya dengan data-driven science. Apakah berarti teori akan mati? Justru di sinilah peringatan penting Pennebaker.
AI Bisa Memprediksi, Belum Tentu Menjelaskan
Bayangkan sebuah mesin dapat memperkirakan bahwa seseorang memiliki risiko mengalami depresi hanya dengan menganalisis ribuan kata yang ditulisnya.
Hebat, itu kata yang tepat untuk munculnya AI. Tetapi, ada pertanyaan berikutnya. Mengapa? Mengapa pilihan kata tertentu berkaitan dengan depresi? Apa mekanisme psikologisnya? Apakah berlaku pada semua budaya? Di sinilah batas antara prediction dan explanation.
BACA JUGA:Psikologi untuk Keadilan: Menyatukan Nalar, Nurani, dan Negara
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: