Psikologi Masa Depan dari James W. Pennebaker

Psikologi Masa Depan dari James W. Pennebaker

ILUSTRASI Psikologi Masa Depan dari James W. Pennebaker.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

BACA JUGA:Pecandu Judol Bunuh Remaja di Tangerang: Problem Psikologis Pelaku

AI sangat hebat menemukan pola dan membuat prediksi. Tetapi, mengetahui bahwa A berkaitan dengan B belum otomatis menjelaskan mengapa A dapat berhubungan dengan B.

Psikologi tetap membutuhkan teori. Maka, masa depan psikologi, menurut Pennebaker, bukan memilih salah satu: teori atau algoritma. Keduanya harus bertemu. AI membantu menemukan pola. Psikologi menjelaskan maknanya. Itu pembagian tugas yang menarik. 

Jangan Hanya Membaca Orang Barat

Bagian lain dari paparan Pennebaker justru sangat relevan bagi Indonesia.

Ia mengingatkan pentingnya kolaborasi lintas budaya. Selama bertahun-tahun banyak teori psikologi dikembangkan dari penelitian terhadap masyarakat Amerika Utara dan Eropa. Teori tersebut kemudian dibaca di seluruh dunia seolah-olah otomatis menjelaskan manusia di mana pun.

Padahal, manusia tidak hidup di ruang hampa. Ada budaya. Ada bahasa. Ada agama. Ada keluarga. Ada nilai sosial. Ada cara masyarakat memahami kebahagiaan, kesedihan, keberhasilan, kegagalan, bahkan kesehatan mental. Karena itu, psikologi masa depan harus lebih internasional. Kolaborasi peneliti dari berbagai negara menjadi keharusan, bukan sekadar pelengkap.

Bagi Indonesia, itu sebuah peluang. Penduduk kita lebih dari 280 juta jiwa. Budayanya luar biasa beragam. Bahasa, tradisi keluarga, kehidupan komunitas, nilai religius, sampai pola hubungan sosial juga sangat beragam. Indonesia semestinya tidak hanya menjadi tempat pengambilan sampel untuk menguji teori dari luar. Kita harus berani ikut menghasilkan teori.

AI membuat penelitian lintas budaya dalam skala besar makin mungkin dilakukan. Namun, secanggih apa pun AI, ia tidak serta-merta memahami mengapa sebuah kata memiliki arti tertentu bagi orang Jawa, Sunda, Minang, Bugis, Batak, Bali, Madura, Dayak, atau Papua. Komputer membaca pola. Manusia memahami konteks.

Kurikulum Psikologi Juga Harus Berubah 

Konsekuensinya sampai ke perguruan tinggi. Mahasiswa psikologi masa depan tidak cukup hanya belajar statistik konvensional dan metode penelitian klasik. Mereka perlu mempunyai literasi tentang AI, data science, analisis komputasional, bahkan dasar-dasar pemrograman.

Tidak berarti semua psikolog harus menjadi programer. Tetapi, jangan sampai psikolog hanya menjadi konsumen teknologi. Psikolog tetap harus membawa sesuatu yang justru semakin mahal nilainya di zaman AI: berpikir kritis, membangun teori, memahami manusia, membaca budaya, dan menjaga etika. AI harus memperbesar kemampuan psikolog.

Bukan menggantikan psikolog.

Justru makin hebat mesin membaca manusia, makin besar kebutuhan terhadap orang yang mampu memahami manusia.

Itulah paradoks masa depan psikologi. Mesin mungkin bisa membaca satu miliar kata dalam waktu sangat singkat. Tetapi, psikologi masih harus menjawab pertanyaan yang jauh lebih sulit:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: